Bagaimana AI dan cloud mendorong transformasi kesehatan di Indonesia

By Mochamad Azhar

Pemangku sektor kesehatan memandang kecerdasan artifisial (AI) sebagai hal yang “critical” dalam mengembangkan teknologi kesehatan kita di masa depan. AI dapat memudahkan kita mendapatkan hasil analisa yang lebih cepat yang dapat digunakan sebagai gambaran awal untuk menentukan kebijakan kesehatan.

Pemerintah terus berupaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak serta mencegah stunting dengan cara mendistribusikan alat kesehatan ke Pusat Kesehatan Masyarakat hingga level kecamatan. Foto: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

Prinsip sederhana dari pemanfaatan AI ialah bagaimana sebuah teknologi dapat membantu manusia menyelesaikan tugasnya dengan lebih cepat dan akurat. Di sektor kesehatan, kecepatan dalam mengambil keputusan dan tindakan sangat diperlukan untuk melindungi masyarakat.

 

GovInsider berbincang bersama Agus Rachmanto, Deputy Chief of Digital Transformation Office, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, untuk membicarakan bagamana implementasi AI dan cloud dapat mendorong proses transformasi kesehatan di Indonesia.

Merumuskan kebijakan kesehatan dengan bantuan AI

Menurut Agus, data yang akurat adalah fondasi penting dalam menentukan sebuah kebijakan kesehatan. Data-data kesehatan di Indonesia tersebuar secara luas dan dalam jumlah yang besar hingga petabytes dan banyak yang belum terstandardisasi.

 

Sebagai contoh, upaya pemerintah dalam mengatasi gizi buruk atau stunting di Indonesia. Proses ini mengerahkan banyak sekali tenaga kesehatan, tenaga medis dan relawan untuk melakukan survei, kunjungan, dan pemetaan ke seluruh lokasi yang terdeteksi.

 

"Dengan bantuan AI, pengumpulan dan pengolahan data dapat dilakukan secara lebih efisien untuk mendukung dan mengoptimalkan enumerator di lapangan maupun petugas di lapangan," kata dia.

 

AI memiliki potensi untuk mengolah big data yang sudah tersedia dalam pusat data, sistem, dan aplikasi-aplikasi yang dimiliki oleh Kementerian Kesehatan seperti SATUSEHAT Platform, SATUSEHAT Mobile, SehatIndonesiaKu atau ASIK, sistem informasi manajemen puskesmas, sistem informasi manajemen rumah sakit, hingga data-data milik Dinas Kesehatan tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

 

Untuk mendapatkan data yang akurat, terlebih dahulu tim data scientist akan melakukan validasi dengan "membersihkan" data-data yang tidak relevan, kemudian data itu diproses menggunakan machine learning untuk memberikan hasil analisa yang dapat dijadikan pertimbangan untuk memberikan rekomendasi kebijakan kesehatan.

 

"Hasil pengolahan data ini kemudian dipakai sebagai laporan indikasi awal untuk merumuskan tindakan selanjutnya, yaitu melakukan pengecekan dan melakukan intervensi," kata Agus.

AI mudahkan proses pemantauan wabah

 
Deputy Chief of DTO Kemenkes, Agus Rachmanto, memandang AI dapat mengidentifikasi informasi awal terjadinya wabah sehingga pemerintah dapat mengambil langkah antisipatif. Foto: DTO Kemenkes

Kedua, AI memiliki potensi untuk memudahkan proses pemantauan atas wabah. Selama ini, setiap orang yang mengalami penyakit khusus harus melapor secara berjenjang ke tenaga kesehatan di tingkat lokal, kemudian tenaga kesehatan tersebut melaporkan kasus tersebut tingkat provinsi, sebelum pada akhirnya dicek oleh instansi di tingkat pusat.

 

Proses yang dibutuhkan dari mulai pelaporan pertama hingga akhirnya ditangani oleh petugas kesehatan di tingkat pusat berbeda-beda, bahkan bisa memakan waktu satu bulan. Hal ini amat tidak diharapkan dalam penanganan wabah yang sangat tergantung pada waktu. 

 

"Ketika terjadi wabah, yang dibutuhkan adalah respons yang cepat sebelum wabah itu menyebar ke mana-mana dan menjadi asal mula pandemi. AI ke depannya seharusnya dapat membantu kita untuk mengidentifikasi informasi tersebut lebih awal sehingga antisipasinya pun bisa lebih cepat," Agus melanjutkan.

 

Berdasarkan temuan-temuannya pada saat pandemi Covid-19, informasi terkait wabah kerap berasal dari media sosial. Hal ini mengingat perilaku masyarakat yang atas dasar nalurinya ingin berbagi informasi melalui update status di laman media sosial mereka.

 

"Di era ketika media sosial menjadi bagian hidup sehari-hari masyarakat seperti sekarang, kita dapat menggunakan analisa media sosial ini sebagai indikasi awal untuk menindaklanjuti kemungkinan terjadinya wabah."

 

Setelah informasi itu dicek kebenarannya, pemerintah dapat mengambil respons yang sesuai, mulai dari seberapa besar sumber daya nakes yang harus dikerahkan hingga intervensi apa yang harus diambil untuk mengatasi masalah. Tidak semua nakes perlu diterjunkan ke titik tersebut untuk melakukan penanganan. Sumber daya nakes lainnya justru bisa dioptimalkan untuk melakukan pencegahan di titik-titik lainnya.

Pemanfaatan komputasi awan di sektor kesehatan

Sejak diluncurkan pada tahun 2022, SATUSEHAT menggunakan teknologi komputasi awan untuk menyimpan data rekam medis elektronik dari ribuan fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia. Data-data yang diproses diharapkan dapat diutilisasi untuk membantu pemerintah dalam melihat tren penyakit di Indonesia dan persebarannya.

 

“Informasi-informasi ini akan sangat membantu pemangku kepentingan sektor kesehatan dalam merumuskan kebijakan-kebijakan promotif, preventif, dan preskriptif serta berguna bagi publik sebagai edukasi kesehatan,” ungkap Agus.

 

Menurut Agus, pemanfaatan teknologi komputasi awan diarahkan sebagai sarana yang dapat diandalkan untuk menunjang pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh tim DTO Kemenkes, mulai dari proses bisnis, menyimpan data, hingga menjalankan aplikasi-aplikasi.

 

Saat ini pengelolaan data aplikasi SATUSEHAT dilakukan bersama dengan Pusat Data Nasional (PDN) yang dikelola oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika dan juga melibatkan pihak penyedia layanan komputasi awan.


Pada artikel GovInsider sebelumnya, Kementerian Kesehatan telah menerapkan beberapa langkah untuk mendukung keamanan siber pada sistem dan aplikasi-aplikasi Kemenkes.
 



Agus Rachmanto, Deputy Chief Digital Transformation Office, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, akan berbicara pada sesi "How should CIOs response to cloud and AI" di acara Festival of Innovation yang diselenggarakan GovInsider pada 26-27 Maret di Singapura.

 

Daftarkan diri Anda di sini untuk mendengarkan lebih lanjut pemaparan Agus Rachmanto dan para pembicara lainnya.