BSSN dorong integrasi identitas digital nasional lewat Connect IDN
By Mochamad Azhar
Connect IDN dikembangkan untuk menyederhanakan akses layanan pemerintah sekaligus menurunkan risiko keamanan yang timbul akibat fragmentasi sistem identitas digital.

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) melalui Balai Layanan Penghubung Identitas Digital meluncurkan Connect IDN untuk mengatasi fragmentasi sistem identitas digital. Foto: Canva
Fragmentasi identitas digital masih menjadi tantangan besar dalam layanan pemerintah Indonesia. Banyaknya sistem elektronik membuat pengguna memiliki akun yang berbeda-beda untuk mengakses berbagai layanan.
Untuk mengatasi hal ini, Balai Layanan Penghubung Identitas Digital (BLPID) Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menghadirkan Connect IDN, sebuah layanan penghubung identitas digital nasional yang dirancang untuk menyederhanakan akses sekaligus memperkuat keamanan.
“Seperti pada Google Account, cukup dengan satu set kredensial [username dan password] Connect IDN, pengguna akan lebih mudah dalam mengakses berbagai layanan,” kata Kepala BLPID BSSN Imam Muhtahar kepada GovInsider.
Lebih dari sekadar sistem login tunggal, Connect IDN berperan sebagai identity broker, perantara yang menghubungkan penyedia layanan digital dengan penyedia identitas (identity provider). Dengan pendekatan ini, pertukaran data dapat berlangsung lebih terintegrasi, aman, dan efisien.
Menyederhanakan layanan pemerintahan
Kompleksitas akses layanan digital dan fragmentasi bukan sekadar isu teknis, melainkan hambatan sehari-hari yang dialami hampir semua aparat sipil negara (ASN).
Dalam satu organisasi saja, seorang ASN bisa memiliki sedikitnya enam akun mengakses enam layanan inti yang berbeda. Kondisi ini semakin rumit dengan adanya kebutuhan mengakses layanan horizontal lintas kementerian maupun layanan vertikal antara pemerintah pusat dan daerah.
Akibatnya, tidak hanya efisiensi yang terganggu, tetapi juga risiko keamanan meningkat. Semakin banyak akun berarti semakin banyak kata sandi yang harus diingat dan semakin besar peluang terjadinya celah keamanan.
“Connect IDN akan mengatasi password fatigue – kelelahan individu dalam mengingat banyak kata sandi - yang berpotensi melahirkan penggunaan kata sandi yang lemah atau berulang,” kata Kepala BLPID.
Melalui single sign-on, ASN kini dapat mengakses berbagai layanan tanpa perlu berulang kali melakukan login.
Sejak diluncurkan pada Oktober 2025, Connect IDN telah tersedia untuk pengguna dari kalangan ASN.
Beberapa layanan yang telah terintegrasi antara lain portal Sistem Informasi Aparatur Sipil Negara (SIASN) dan MyASN yang dikelola oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN), serta portal Sistem Pengembangan Kompetensi ASN (Sibangkom) dari Lembaga Administrasi Negara (LAN).
SIASN dan MyASN adalah portal khusus ASN untuk membuat profil kepegawaian, pemantauan kinerja dan layanan-layanan khusus ASN lainnya. Sementara Sibangkom adalah portal untuk mengakses pelatihan dan pembelajaran digital yang disediakan pemerintah.
“Dalam waktu beberapa bulan, dampaknya langsung terasa. Keluhan, helpdesk, jauh berkurang, dan kasus lupa password kini dapat ditekan,” kata Imam.
Membangun fondasi kepercayaan digital
Connect IDN menjadi bagian dari upaya BSSN yang lebih besar untuk membangun ekosistem kepercayaan digital di Indonesia.
Menurut Imam, setiap interaksi di ruang digital memerlukan sistem identitas yang dapat dipercaya, baik di layanan pemerintah, e-commerce atau layanan swasta. Semuanya membutuhkan kepastian bahwa pengguna adalah pihak yang sah.
“BSSN mendorong terbentuknya ekosistem kepercayaan digital sehingga masyarakat memiliki keyakinan bahwa interaksi dan transaksi digital berlangsung secara aman serta dapat dipertanggungjawabkan.”
Untuk mencapai hal tersebut, Connect IDN mengadopsi berbagai pendekatan global. Dari sisi kerangka, pengembangannya merujuk pada standar identitas digital Uni Eropa (eIDAS), sementara dari sisi sistem merujuk pada Prancis, Italia, dan Norwegia.
Dari sisi keamanan, sistem ini menerapkan pendekatan Zero Trust Architecture yang memungkinkan deteksi anomali secara lebih dini serta respons terhadap ancaman yang lebih cepat dan terkoordinasi.
Selain itu, Connect IDN juga dirancang selaras dengan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP), yang memberikan kontrol lebih besar kepada individu atas data mereka, termasuk hak untuk mengetahui, memperbaiki, serta menarik persetujuan atas penggunaan data.
Mengusung prinsip minimum disclosure
Ke depan, pengembangan Connect IDN akan mengadopsi prinsip kunci minimum disclosure, di mana hanya data yang benar-benar diperlukan yang dibagikan kepada layanan tertentu, misalnya nama atau tahun lahir.
“Layanan tidak perlu mengetahui seluruh data pengguna, cukup atribut yang dibutuhkan saja,” jelasnya.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep zero-knowledge proof yang mulai banyak diterapkan secara global.
Prinsip ini akan diperkuat melalui pengembangan layanan seperti ConnectWallet, yang memungkinkan pengguna mengelola kredensial digital secara mandiri, serta ConnectSign untuk integrasi layanan tanda tangan elektronik.
“Pengguna nanti bisa melihat akunnya digunakan di mana saja, kapan, dan untuk apa,” tambahnya.
Dari sisi teknologi, Connect IDN menggunakan pendekatan federated identity management yang memungkinkan satu identitas digunakan di berbagai layanan sekaligus tetap memberikan kontrol tertentu kepada sistem untuk mencegah penyalahgunaan.
Untuk memperkuat keamanan dari sisi pengguna, Connect IDN akan diperkaya dengan penggunaan multi-factor authentication (MFA), dan dalam tahap berikutnya menargetkan autentikasi passkey tanpa password.
Meski implementasi di lingkungan pemerintah menunjukkan hasil yang positif, BSSN memilih untuk tidak terburu-buru memperluas layanan kepada masyarakat luas karena ingin memastikan kesiapan sistem dan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Saat ini, fokus utama BLPID BSSN adalah memperluas adopsi di instansi pemerintah pusat dan daerah sembari membangun kemitraan lintas sektor dengan berbagai penyedia identitas.