Dari analisis anggaran ke 'AI agent', inovator hadirkan solusi AI untuk pemerintah
Ruang eksperimen penting untuk memberi pemerintah keyakinan dalam mencoba pendekatan baru tanpa mengabaikan pertimbangan keamanan dan regulasi.

Lima inovator bekerja sama dengan kementerian untuk mengembangkan solusi AI yang mampu mengatasi masalah pemerintah. Foto: AMANA Solutions
Solusi kecerdasan artifisial (AI) yang dikembangkan bersama oleh inovator dan kementerian kini mulai diimplementasikan di dalam alur kerja pemerintah.
Acara AI Incubation for Public Sector (AIPS) Demo Day 2026 yang diselenggarakan oleh British Embassy in Jakarta dan AMANA Solutions pada 15 September lalu dirancang sebagai ruang eksperimen bagi pemerintah dan inovator untuk menguji AI terhadap persoalan nyata sebelum teknologi tersebut diperluas.
Program ini merupakan bagian dari kerja sama UK-Indonesia dalam membangun jalur yang lebih jelas dari inovasi AI menuju implementasi nyata.
Lima inovator terpilih – Klaussa , AURIKA, TataData, Vela, dan Rey – mempresentasikan solusi yang mereka kembangkan selama enam bulan melalui proses inkubasi bersama kementerian problem owner.
Mempercepat proses analisa data
FiskalLink yang dikembangkan Klaussa berangkat dari persoalan bagaimana Kementerian Keuangan dapat mengetahui secara cepat apakah anggaran yang dialokasikan untuk sebuah program benar-benar digunakan sesuai tujuan.
Menurut Klaussa, tantangan utama tata kelola anggaran ialah ketidakselarasan antara sistem keuangan pemerintah pusat dan daerah. Proses yang masih manual juga membuat pengumpulan informasi, riset, validasi dan penyusunan laporan membutuhkan waktu panjang.
FiskalLink AI kemudian mengotomatisasi proses tersebut dengan tiga prinsip utama: explainability, human in the loop dan traceability.
"Setiap keputusan AI harus dapat dijelaskan, sementara petugas tetap memiliki kewenangan untuk memvalidasi atau mengoreksi rekomendasi AI," kata Eriawan dari Klaussa.
Ia mengklaim FiskalLink dapat melakukan proses lebih dari 2.000 kali lebih cepat dan dengan biaya 208 kali lebih rendah dibandingkan proses manual. Ia berharap sistem ini dapat membantu pemerintah mengetahui ke mana anggaran dialokasikan sekaligus mempercepat proses tersebut hingga sekitar 15 menit.
Jika FiskalLink fokus pada mempercepat pekerjaan manusia, TataData ingin meyakinkan pengambil keputusan bahwa data yang mereka gunakan benar-benar dapat dipercaya.
Bekerja sama dengan Sekretariat Satu Data Indonesia Bappenas, TataData membangun sebuah workspace yang ditujukan untuk membantu pengelola data pemerintah memastikan kualitas data sejak tahap perencanaan.
Product and Institutional Lead Tata Data, Surya Dharma, mengatakan bahwa TataData membantu reviewer memeriksa metadata, jenis data, hingga kode referensi. Ketika ditemukan adanya kesalahan atau potensi duplikasi, maka sistem akan memberikan rekomendasi dan penilaian level kepercayaan.
"Namun, keputusan untuk menerima atau menolak rekomendasi tetap ada di reviewer,” ujarnya.
Dari thinking partner ke agen AI
Sebagai asisten AI untuk Rapor Pendidikan – sebuah aplikasi yang dikembangkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk guru dan kepala sekolah – AURIKA membawa interaksi manusia dengan AI selangkah lebih maju.
Alih-alih langsung memberikan rekomendasi, AURIKA bertindak sebagai thinking partner yang mampu mengajukan pertanyaan seperti mengapa kemampuan numerasi menjadi masalah, bagaimana praktik pembelajaran berlangsung dan intervensi apa yang sudah pernah dilakukan.
Hasil percakapan kemudian digunakan untuk membantu sekolah menyusun pilihan tindakan.
Vela menunjukkan bagaimana agen AI dapat digunakan untuk membantu pemerintah daerah dan lembaga promosi investasi menyampaikan informasi proyek kepada investor.
Tim ini mengidentifikasi tiga persoalan utama setelah mempelajari 176 proyek promosi investasi pemerintah, yakni tidak adanya standar dan bahasa yang sama, belum ada ukuran yang seragam untuk menilai bankability, dan proses komunikasi masih banyak dilakukan secara manual.
Bersama Kementerian Investasi dan Hilirasi/BKPM, pengembang menyiapkan beberapa agen AI yang membantu pemerintah daerah menyiapkan presentasi dan materi investasi. Agen lainnya lain menghasilkan materi yang menggunakan bahasa yang lebih sesuai dengan kebutuhan investor, termasuk dalam Bahasa Inggris, Mandarin, Arab dan Jepang.
Setelah investor tertarik, agen lain dapat bekerja selama 24 jam untuk menjawab pertanyaan mengenai peluang investasi tersebut.
Jika Vela menggunakan AI untuk mempercepat proses promosi investasi, Rey membawa pendekatan serupa ke proses verifikasi klaim kesehatan melalui Olvo AI.
Tim ini mengatakan BPJS Kesehatan memproses sekitar dua juta klaim setiap hari. Dalam kondisi tersebut, seorang verifikator memiliki waktu yang sangat terbatas untuk membandingkan kode klaim dengan berbagai dokumen medis pendukung.
Olvo AI mencoba mengotomatisasi pemeriksaan tersebut dengan merekonstruksi bukti dari dokumen medis dan membandingkannya dengan case mix yang diajukan rumah sakit untuk mendeteksi ketidaksesuaian antara kode tindakan dengan bukti medis.
Rey mengklaim sistem ini dapat mendeteksi perbedaan pembayaran sekitar Rp5 juta pada satu klaim.
Inovasi AI yang dipercaya
Saat membuka acara, Head of Social and Economic Affairs the British Embassy in Jakarta Samuel Hayes mengatakan bahwa ukuran keberhasilan acara ini bukan sekadar kualitas demonstrasi, melainkan apakah institusi pemerintah dapat membawa solusi yang telah diuji ke tahap berikutnya.
"Tahap penting selanjutnya ialah memperkuat safeguards, mengujinya lebih lanjut bersama pengguna, dan membangun bukti yang cukup untuk melakukan scale-up," ujar Hayes.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria, dalam pidato pembukanya, mengapresiasi kerja sama tim pengembang dan lima kementerian dalam membangun solusi AI yang mampu membantu pemerintah mengatasi masalah nyata.
Ia menyampaikan pesan kepada para inovator bahwa solusi AI harus bisa disesuaikan dengan bahasa, norma, dan kebutuhan lokal, mengingat Indonesia adalah negara yang sangat majemuk terdiri dari berbagai suku bangsa dan bahasa.
“Kita tidak bisa berhenti pada tahap adopsi. Adaptasi adalah hal penting berikutnya,” katanya.
Ia juga meminta para inovator untuk tetap mengedepankan aspek keamanan, baik sejak awal pengembangan, inkubasi, hingga scale up. Tanpa aspek keamanan dan etika, kepercayaan tidak akan lahir walau secanggih apapun teknologinya.
"ini bukan tentang memperlambat inovasi. Ini tentang membuat inovasi bertahan lama," tambah Nezar.
Managing Partner AMANA Solutions Prasetya Dwicahya menambahkan, keberadaan ruang eksperimen semacam ini penting untuk membangun keberanian pemerintah mencoba pendekatan baru tanpa mengabaikan aspek keamanan dan regulasi.
"Demo day ini hanyalah milestone, bukan garis finis. Yang kita rayakan hari ini adalah proses bagaimana lima kelompok inovator dan lima instansi pemerintah belajar bersama untuk membangun AI yang aman dan bertanggung jawab."
Ia berharap pendekatan tersebut dapat dilanjutkan ke unit dan kementerian lainnya.
