Filipina wujudkan inklusi digital dengan melibatkan masyarakat

Dengan inisiatif Desa Pintar (Smart Villages) dan Pulau Pintar (Smart Islands) di wilayah Mindanao Utara, komunitas-komunitas terpencil dapat menjadi contoh inovasi dan ketangguhan melalui transformasi digital yang kolaboratif.

Departemen Teknologi Komunikasi dan Informasi Filipina (DICT) mendorong inklusi digital lewat program Desa Pintar (Smart Villages) dan Pulau Pintar (Smart Islands). Foto: DICT

Mengumumkan program inklusi digital memang mudah, tetapi memastikan manfaatnya benar-benar menjangkau masyarakat di pelosok adalah tantangan yang berbeda. 


Bagi Departemen Teknologi Komunikasi dan Informasi Filipina (DICT) Kepulauan Mindanao Utara, persoalan menjangkau lapisan masyarakat paling akhir (last mile) bukan sekadar soal konektivitas, melainkan soal rasa memiliki terhadap program tersebut. 


Perempuan-perempuan yang sebelumnya harus membawa ubi jalar dan kelapa dalam keranjang untuk dijual ke pasar kini dapat memastikan pesanan mereka secara daring sebelum meninggalkan rumah, sehingga tidak perlu khawatir barang dagangan tidak laku, menghemat biaya bahan bakar, dan mengurangi ketergantungan pada tengkulak. 


Namun, manfaat ini tidak hadir begitu saja ketika akses internet tersedia. Perubahan tersebut terjadi setelah masyarakat mendapatkan pelatihan literasi digital yang dirancang sesuai dengan aktivitas ekonomi masing-masing komunitas terpencil. 


Pekerjaan yang lebih sulit justru terletak pada membangun kemitraan yang mampu menjaga keberlanjutan transformasi tersebut. 


"Salah satu pelajaran terpenting adalah menciptakan akuntabilitas bersama," ujar Pejabat DICT Provinsi Misamis Occidental, Kepulauan Mindanao Utara, Kenneth Asuncion, kepada GovInsider.


Menurutnya, tujuan utamanya adalah mengubah cara pandang para mitra – mulai dari instansi pemerintah, sektor industri, hingga komunitas lokal – agar tidak lagi melihat diri mereka hanya sebagai donor atau pelaksana, tetapi sebagai pemilik bersama dari agenda pembangunan yang sama. 


"Dengan melibatkan lebih banyak mitra, upaya dan sumber daya yang harus dikeluarkan DICT menjadi lebih kecil, tetapi dampaknya justru jauh lebih besar," katanya. 


Ia menambahkan bahwa ekosistem yang holistik juga akan lebih berkelanjutan ketika semua pihak memiliki kepentingan di dalamnya. Sebab, menurutnya, "transformasi yang berkelanjutan tidak bisa bergantung pada upaya yang hanya dilakukan sekali." 

  

Asuncion berbagi cerita tentang perkembangan inisiatif Desa Pintar (Smart Villages) dan Pulau Pintar (Smart Islands), yang pertama kali diuji coba selama satu tahun di tiga lokasi sebelum diperluas ke berbagai wilayah terpencil lainnya di Mindanao Utara.


Inisiatif ini bertujuan mendorong transformasi digital yang inklusif di daerah-daerah paling terisolasi di Filipina. 


Pada periode 2024 hingga 2025, program ini diuji coba di Munai, Dalingap, dan Capihan. 


Tim DICT menyediakan akses internet, melibatkan berbagai pemangku kepentingan untuk mendukung kegiatan TIK, menjalankan program pelatihan dan kesadaran keamanan siber, memanfaatkan teknologi informasi untuk pelayanan publik, dan berbagai inisiatif lainnya. 


Atas upaya mereka memperluas inovasi melalui kolaborasi lintas sektor, tim ini meraih penghargaan "Special Mention" dalam ajang Festival of Innovation (FOI) tahun ini. 

Menjangkau pelosok dimulai dengan mendengarkan 


Sementara banyak program inklusi digital dimulai dengan pembangunan infrastruktur, tim DICT justru memulai dengan bertanya apa yang benar-benar dibutuhkan masyarakat setempat.


Pendekatan ini sebagian dibentuk oleh peran ganda Asuncion sebagai pejabat teknologi informasi sekaligus pejabat provinsi. 


Dalam praktiknya, ia harus berpindah dari menyusun spesifikasi teknis ke duduk bersama berbagai pemangku kepentingan sebagai perwakilan DICT. 


"Inilah yang saya sukai dari peran saya saat ini... Saya jadi memahami kedua sisi," ujarnya. 


Alih-alih datang dengan solusi yang sudah ditentukan, tim DICT merancang program berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat di tingkat akar rumput. Foto: DICT

Kemampuan untuk memahami aspek teknis sekaligus sisi kemanusiaan inilah yang menjadi dasar pendekatan berbasis komunitas. 


Alih-alih datang membawa solusi yang sudah ditentukan sebelumnya, timnya mempelajari aktivitas ekonomi, tingkat literasi, serta berbagai hambatan yang membuat masyarakat sulit berpartisipasi dalam ekonomi digital. Setelah itu, program dirancang berdasarkan kebutuhan nyata di tingkat akar rumput. 


Sepanjang 2025, timnya mendukung 127 kegiatan berbasis TIK yang dijalankan bersama para mitra dan pemangku kepentingan. 


Berbagai kompetisi digital dan kegiatan inovasi di tingkat regional juga berhasil menarik sekitar 2.400 peserta, dengan kaum muda dan para profesional mengembangkan keterampilan serta kreativitas digital mereka. 


Pendekatan ini memastikan bahwa kehadiran internet benar-benar menghasilkan dampak pembangunan. 


"Terkadang kami juga melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan dan konsultasi," tambahnya. 


Di salah satu lokasi percontohan, para orang tua menyampaikan kekhawatiran mengenai lamanya waktu anak-anak menggunakan gawai. Menanggapi hal itu, tim DICT menerapkan jam malam untuk akses internet dengan mematikan layanan Wi-Fi gratis pada pukul 21.00 dan mengaktifkannya kembali pada pukul 05.00. 


Pada bulan Juni, tim ini juga memperkenalkan LAKIP (Localised Accessible Knowledge and Inclusive Platform) di provinsi tersebut.  


Platform pembelajaran daring ini menyediakan modul pelatihan TIK yang dapat dipelajari secara mandiri dan telah diterjemahkan sepenuhnya ke dalam dialek lokal, Visayan

Dari donor menjadi pemilik bersama  


Mengelola kemitraan yang melibatkan lebih dari 30 organisasi aktif dari berbagai sektor dan komunitas terpencil tentu bukan hal yang mudah.  


Menurut Asuncion, timnya menggunakan kerangka kerja MAGIC, singkatan dari Making Academia, Government and Industry Collaborate


Yang membuat kerangka ini berhasil bukanlah banyaknya jumlah mitra, melainkan kejelasan pembagian peran. 


Lembaga pendidikan membantu memvalidasi kurikulum pelatihan dan menjadi mitra pengetahuan selama program berlangsung, sementara sektor industri menyediakan peralatan dan platform yang tidak dapat sepenuhnya didanai oleh anggaran pemerintah. 


Kenneth Asuncion menjabat sebagai pejabat IT merangkap pejabat provinsi di Mindanao Utara. Foto: LinkedIn Kenneth Asuncion.

Sebagai contoh, mWell, aplikasi kesehatan digital asal Filipina, menyediakan perangkat eTelemedicine yang memungkinkan warga berkonsultasi dengan dokter berlisensi dari jarak jauh tanpa harus meninggalkan komunitas mereka.


Pada tahun 2025, layanan telemedisin ini berhasil menghemat lebih dari US$715 (sekitar Rp11,6 juta) biaya perjalanan dan pengobatan bagi masyarakat setempat, jumlah yang dianggap cukup signifikan. 


Pemerintah daerah juga berkontribusi dalam aspek mobilitas, dukungan logistik, dan sumber daya lapangan untuk memastikan program berjalan efektif. 


Pada tahun yang sama, tim DICT memfasilitasi lebih dari 58.000 transaksi eLGU (electronic Local Government Unit) di provinsi tersebut, sehingga waktu penyelesaian layanan menjadi lebih cepat, pengalaman warga meningkat, dan proses birokrasi menjadi lebih efisien. 


"Kami harus menemukan mitra yang memiliki nilai-nilai yang sama," kata Asuncion. 


Ia menambahkan bahwa mekanisme koordinasi formal, seperti pelaporan rutin, konsultasi teknis, dan penyelarasan dengan DICT pusat, tetap menjadi hal yang penting. 


"Kami juga memastikan bahwa peran dibagikan secara adil, sehingga semua pihak merasa memiliki program ini," ujarnya. 


Menurutnya, waktu dan kesabaran yang dibutuhkan untuk membangun komitmen tersebut sepadan dengan hasil yang diperoleh. 


Ketika para mitra benar-benar berinvestasi pada hasil akhir, bukan sekadar memenuhi kewajiban kontrak, program akan memiliki daya tahan yang lebih kuat. 

Dari pilot menjadi model yang dapat direplikasi  


Asuncion mengungkapkan bahwa perluasan program ke wilayah Lanao del Norte dan Bukidnon saat ini sedang berlangsung. 


Selain itu, timnya juga terlibat dalam pelaksanaan program Child Safe Thursdays, yang menunjukkan bahwa ekosistem digital yang dibangun kini tidak hanya berfokus pada akses dan keterampilan, tetapi juga pada aspek keamanan digital.


Tim ini mengunjungi sekolah dan komunitas lokal untuk meningkatkan kesadaran anak-anak dan pelajar tentang bahaya eksploitasi serta kekerasan seksual secara daring. 


"Komunitas-komunitas terpencil dapat menjadi model inovasi, inklusi, dan ketangguhan melalui transformasi digital yang kolaboratif," ujarnya. 


Tim DICT tidak memilih lokasi percontohan secara acak. 


Mereka secara sengaja mencari wilayah yang paling menantang, yang secara resmi dikategorikan sebagai daerah terisolasi dan tertinggal (Geographically Isolated and Disadvantaged Areas/GIDAs), yaitu daerah dengan konektivitas terbatas dan hampir tidak memiliki pengalaman menggunakan teknologi digital.  


"Inisiatif ini dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat dan mentransformasikan komunitas-komunitas tersebut agar menjadi lebih produktif serta memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam ekonomi yang lebih luas," tutupnya.