Jepang perkuat ketahanan bencana lewat desain yang berpusat pada manusia
By Si Ying Thian
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menekankan pentingnya menyediakan produk, layanan, dan infrastruktur yang membantu menyelesaikan tantangan global bersama, karena hal tersebut dapat menciptakan solusi saling menguntungkan bagi Jepang dan dunia.

Pemerintah Jepang memandang pencegahan bencana sebagai jembatan untuk kerja sama internasional, ujar Misumi Takahito dari Sekretariat Kabinet Jepang. Foto: Canva
Direktur Komunikasi Global pada Sekretariat Kabinet Jepang, Misumi Takahito, mencatat bahwa membangun ketahanan sosial dan perekonomian yang kuat berjalan beriringan.
Ia menyampaikan hal tersebut dalam sesi pengarahan daring mengenai strategi manajemen bencana Jepang yang diselenggarakan oleh Kantor Kabinet Jepang di Singapura pada 11 Desember 2025.
Takahito mengatakan bahwa salah satu kekuatan Jepang dalam ketahanan bencana berasal dari budaya perbaikan berkelanjutan yang dimilikinya.
“Setelah setiap bencana besar, Jepang secara konsisten berupaya mencegah terulangnya kerusakan dengan memperbaiki regulasi, teknologi, atau sistem.
“Dan kami percaya bahwa pengalaman-pengalaman tersebut membangun budaya atau pola pikir yang tangguh terhadap bencana seiring waktu,” jelasnya.
Seiring bencana alam dan rantai pasok global yang melintasi batas negara, pemerintah Jepang memandang pencegahan bencana sebagai jembatan untuk kerja sama internasional.
“Memperkuat ketahanan bencana di Asia akan menguntungkan kita semua. Karena itu, kami ingin menciptakan solusi bersama dengan negara-negara mitra untuk mengatasi tantangan bersama,” ujar Takahito.
Berlangganan bulletin GovInsider di sini.
Solusi berpusat pada manusia untuk tantangan global
Dengan menggunakan rumah instan sebagai contoh, Profesor Kitagawa Keisuke dari Departemen Arsitektur, Teknik Sipil, dan Teknik Industri, Nagoya Institute of Technology, membagikan bagaimana memprioritaskan kebutuhan manusia menjadi kunci dalam mengembangkan solusi yang dapat diterapkan secara luas untuk tantangan global terkait bencana alam.
Rumah instan, yang sering kali bersifat modular atau dapat diperluas, merupakan hunian sementara yang dirancang untuk pemasangan cepat serta menggunakan material ringan namun tahan lama.
Ia menjelaskan bahwa tanpa mampu mengatasi persoalan konstruksi pada perumahan konvensional, tidak akan ada solusi nyata bagi para tunawisma.
Permasalahan tersebut mencakup waktu pembangunan yang lama, penggunaan material berat yang mahal, serta kebutuhan akan tenaga kerja profesional.
Menariknya, udara menjadi elemen paling krusial dalam mengatasi tantangan-tantangan tersebut.
Menurut situs web pemerintah Jepang, rumah instan ini “menggunakan blower untuk mengembangkan membran berbentuk kubah dengan udara, kemudian menyemprotkan busa poliuretan pada dinding bagian dalam.”
Metode pembangunan yang inovatif ini memangkas waktu konstruksi dari hitungan bulan menjadi satu atau dua jam, dapat dikemas dalam ransel ringan, terjangkau, dan mudah dibangun sendiri oleh para penyintas bencana.
Meski bersifat “instan”, struktur ini bahkan melampaui kinerja tempat penampungan tradisional, antara lain mampu bertahan dari topan dan badai dengan kecepatan angin hingga 100 meter per detik, serta menahan beban salju berat.
Struktur tersebut juga cukup tahan lama untuk digunakan selama 20 hingga 30 tahun, memungkinkan kehidupan mandiri tanpa terhubung ke jaringan listrik dan air kota, serta memiliki dinding yang adaptif sehingga tetap sejuk di musim panas dan hangat di musim dingin.
Keisuke menegaskan bahwa ini bukan semata-mata solusi khas Jepang, karena rumah instan tersebut telah diekspor ke Timur Tengah, Asia Tenggara, dan Afrika untuk menyediakan tempat tinggal bagi para korban bencana alam.
Membangun ketahanan lokal dan sinergi berbagai pemangku kepentingan
“Inovasi tidak terbatas pada teknologi tinggi atau produk dan sistem yang mahal, tetapi juga mencakup cara berpikir dan perilaku masyarakat yang inovatif dalam menghadapi bencana,” kata Takahito ketika ditanya mengenai visi jangka panjang Jepang dalam kesiapsiagaan bencana.
“Kami percaya bahwa pendekatan berbasis komunitas dan pengurangan risiko bencana merupakan beberapa hal terpenting.
“Mengombinasikan teknologi dan infrastruktur yang tangguh terhadap bencana, menurut saya pendekatan yang inklusif dan partisipatif adalah langkah ideal dalam manajemen bencana,” tambahnya, seraya menekankan bahwa ketahanan komunitas lokal dan teknologi inovatif sama-sama penting untuk mencapai visi yang berkelanjutan.
Selain itu, Takahito menekankan pentingnya kolaborasi sektor publik dengan berbagai pihak, termasuk perusahaan swasta, organisasi non-pemerintah (LSM), serta lembaga riset dan akademik di Jepang maupun negara mitra.
Pemerintah Jepang terlibat dalam kerja sama lintas negara melalui Japan International Cooperation Agency (JICA). Sebagai contoh, JICA bekerja sama dengan pemerintah Filipina dalam perencanaan pengendalian banjir dan penguatan kapasitas.
Pada 1999, pemerintah Filipina membentuk departemen khusus pengendalian banjir, yang menurutnya “satu-satunya di antara negara-negara berkembang”, dan komitmen ini mendorong peningkatan anggaran pengendalian banjir secara signifikan.
Dampaknya terlihat jelas saat Topan Ulysses pada 2020, di mana proyek-proyek strategis tersebut diperkirakan berhasil mengurangi kerugian ekonomi hingga 85 persen, ungkapnya.
Takahito menegaskan arah kebijakan yang ditetapkan oleh Perdana Menteri Jepang yang baru, Sanae Takaichi, di mana investasi dalam ketahanan sosial menjadi salah satu pilar utama strategi pertumbuhan pemerintahan saat ini.
Investasi strategis tersebut mencakup kemitraan publik-swasta untuk mengatasi berbagai risiko dan persoalan sosial.
Selain meningkatkan ketahanan nasional, pemerintah juga bertujuan menyediakan produk, layanan, dan infrastruktur yang membantu menyelesaikan isu-isu global bersama sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Jepang, ujarnya.
“Kami ingin melihat terciptanya situasi saling menguntungkan bagi Jepang dan negara-negara mitra yang menghadapi tantangan serupa dengan memanfaatkan keahlian dan pengalaman Jepang,” tutupnya.