Malaysia membentuk AI Malaysia dan lembaga AI Safety nasional

Pembentukan AI Malaysia bertujuan mengawasi upaya pengembangan dan implementasi kecerdasan buatan (AI) nasional untuk mencapai target AI Nation 2030.

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim meresmikan peluncuran AI Malaysia, sekaligus memperkenalkan Rencana Aksi AI Nasional 2026–2030. Foto: Kementerian Digital Malaysia

Malaysia telah membentuk AI Malaysia Berhad, sebuah lembaga tetap di bawah Kementerian Digital, untuk mengarahkan agenda pengembangan kecerdasan buatan (AI) negara tersebut. 


AI Malaysia dibangun berdasarkan fungsi-fungsi yang sebelumnya dijalankan oleh National AI Office (NAIO) yang didirikan pada Desember 2024. 


Lembaga ini akan menjalankan perannya dengan menyediakan platform kelembagaan untuk mengoordinasikan kebijakan, implementasi, dan kolaborasi lintas sektor. 

Memperkuat tata kelola melalui Malaysia AI Safety Institute 


Peluncuran ini juga memperkenalkan Malaysia AI Safety Institute (MY-AISafe) untuk memperkuat kapasitas teknis nasional dalam menilai dan mengelola risiko AI.


Institut ini akan berkoordinasi dengan lembaga pemerintah, industri, akademisi, dan lembaga riset untuk memperkuat penggunaan AI yang aman. 


MY-AISafe akan menyediakan keahlian teknis, membantu regulator dan organisasi untuk lebih baik dalam mengevaluasi, mengelola, dan memitigasi potensi risiko yang muncul dari penerapan AI. 


Pemerintah juga tengah menyusun rancangan undang-undang tata kelola AI yang ditargetkan rampung pada akhir 2026, dan kini telah dibuka untuk konsultasi publik. 


Meski rancangan undang-undang ini memberikan landasan regulasi yang lebih luas, efektivitasnya bergantung pada apakah prinsip-prinsip tersebut dapat diterjemahkan menjadi panduan praktis bagi organisasi yang menerapkan AI di berbagai sektor. 

Rencana aksi menuju AI Nation 2030 


Dalam acara peluncuran tersebut, pemerintah juga mengumumkan Rencana Aksi AI Nasional 2026–2030 serta pembentukan Malaysia AI Safety Institute. 


Sebagai peta jalan lima tahun, Rencana Aksi AI Nasional 2026–2030 akan mendukung ambisi AI Nation 2030 milik Malaysia, memposisikan negara tersebut bukan sekadar sebagai pengguna AI, melainkan sebagai pemimpin regional yang turut membentuk cara AI diatur dan diterapkan. 


Rencana Aksi AI Nasional2026–2030 didasarkan pada lima pilar yang saling berkaitan: 

  • Memperkuat pengembangan talenta: Memperluas literasi AI di kalangan warga sambil mengembangkan talenta khusus yang dibutuhkan oleh berbagai industri. 
  • Mengembangkan kebijakan: Menjembatani kebutuhan riset dan industri untuk membawa solusi AI dari tahap pengembangan menuju penerapan nyata. 
  • Meningkatkan infrastruktur digital dan data: Menyediakan infrastruktur dan kapasitas komputasi bagi pemerintah dan pelaku usaha untuk mengembangkan dan menerapkan AI secara aman. 
  • Meningkatkan kepercayaan digital: Membangun kepercayaan publik dan investor dengan menetapkan pengamanan yang jelas untuk penerapan AI. 
  • Memperluas investasi strategis: Menggabungkan pendanaan publik dan swasta untuk mendukung pengembangan AI yang berkelanjutan. 

Malaysia kini mengadopsi pendekatan whole-of-nation, bukan lagi sekadar whole-of-government, ujar Menteri Digital Malaysia Gobind Singh Deo. Foto: Kementerian Digital Malaysia

Alih-alih upaya yang berjalan sendiri-sendiri di tubuh pemerintah, rencana aksi ini memungkinkan pendekatan yang terkoordinasi, menyelaraskan pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat sipil. 


“Kita kini mengadopsi pendekatan whole-of-nation, bukan lagi sekadar whole-of-government,” ujar Menteri Digital Gobind Singh Deo dalam sambutan pembukaannya di acara peluncuran.


“Kita membutuhkan sebuah wadah di mana semua sektor yang terlibat dapat berkumpul dan mendiskusikan risiko yang dihadapi oleh masing-masing sektor.”  


Pergeseran ini mengakui bahwa tidak ada pendekatan tunggal yang cocok untuk semua dalam mengadopsi dan mengatur AI, sehingga diperlukan pendekatan khusus per sektor untuk pengembangan kapasitas, data, penerapan, dan manajemen risiko. 

Meningkatkan kesiapan AI melalui pengembangan talenta  


Menteri Digital menekankan bahwa pemerintah akan terus berfokus pada tiga bidang utama: Kesadaran (Awareness), Akses (Access), dan Adopsi (Adoption), untuk mengubah kapabilitas menjadi dampak nyata di seluruh negeri.


Hal ini menuntut upaya yang lebih luas untuk membangun literasi yang lebih kuat di kalangan warga, mengingat AI kini memengaruhi pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. 


Dalam mendukung pengembangan talenta, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengumumkan akses gratis selama tiga bulan ke perangkat AI premium bagi generasi muda Malaysia yang menyelesaikan program AI untuk Rakyat, dengan target menjangkau 100.000 anak muda di Malaysia. 


Akses saja tidak menjamin adopsi AI yang bermakna. Seiring warga semakin bergantung pada AI dalam pekerjaan sehari-hari, tantangannya terletak pada memastikan mereka memahami bukan hanya alat apa yang harus digunakan, tetapi juga menerapkan penilaian manusia untuk mengevaluasi hasilnya. 


"Kita tidak bisa menolak AI karena risiko-risiko ini. Kita harus menguasai pengetahuan ini," ujar Perdana Menteri sembari menekankan perlunya memperkuat literasi AI di berbagai jenjang pendidikan.