Membangun negara digital berbasis AI yang berkelanjutan

By Sol Gonzalez

Para pembicara di Festival of Innovation membahas tantangan dan peluang dalam menyeimbangkan kebutuhan energi yang tinggi dari sistem digital dengan keberlanjutan.

Para pembicara menekankan bahwa AI berkelanjutan memerlukan tiga elemen struktural: kebijakan yang mendorong efisiensi, infrastruktur komputasi hemat energi, dan pasokan listrik yang lebih bersih. Foto: GovInsider. 

Kecerdasan buatan (AI) yang berkelanjutan terdengar seperti sebuah kontradiksi, karena AI dikenal sebagai teknologi yang sangat boros energi, dengan pusat data berdaya listrik tinggi menjadi ciri khasnya.  


Menurut International Energy Agency (IEA), sebuah pusat data yang berfokus pada AI dapat mengonsumsi listrik setara dengan 100.000 kebutuhan rumah tangga, dan angka ini akan terus meningkat seiring bertambahnya permintaan terhadap AI.  


Namun, di sisi lain, AI juga dapat membantu mencapai pengelolaan energi yang lebih berkelanjutan.  


Inilah paradoks yang dibahas oleh para ahli dalam sesi panel “Building a Climate-Resilient Digital Nation” di ajang GovInsider Festival of Innovation 2026 yang diselenggarakan di Singapura 3-4 Maret.  


Panel tersebut menghadirkan para pemimpin dari sektor energi, akademisi, dan organisasi internasional yang berpendapat bahwa AI berkelanjutan bukan sekadar aspirasi, tetapi sesuatu yang dapat dicapai.  

Tiga pilar untuk mencapai digitalisasi berkelanjutan  


Para pembicara mencatat bahwa untuk mencapai AI yang berkelanjutan diperlukan tiga elemen struktural: kebijakan yang mendorong efisiensi, infrastruktur komputasi yang hemat energi, serta pasokan listrik yang lebih bersih.


Chief Data Officer Energy Market Authority (EMA) Singapura, Chua Shen Hwee, menjelaskan bahwa AI dapat digunakan sebagai alat untuk mengoptimalkan manajemen energi dan memprediksi produksi energi surya. 


Chief Data Officer Singapore’s Energy Market Authority (EMA), Chua Shen Hwee, menyoroti peran AI sebagai katalis dalam pengelolaan energi yang lebih cerdas. Foto: GovInsider.

Karena produksi energi surya sangat bergantung pada tutupan awan, operator sistem kelistrikan perlu menyiapkan pembangkit listrik termal yang cukup untuk menjaga kestabilan pasokan listrik saat cuaca mendung atau hujan.  


“Meski AI meningkatkan permintaan energi, AI juga membantu kami mengoptimalkan sistem dengan memantau dan memprediksi tutupan awan, sehingga kami dapat meningkatkan produksi energi termal saat diperlukan,” jelas Chua.  


Dalam konteks ini, AI menjadi pengungkit untuk meningkatkan operasional dan manajemen energi, seiring upaya Singapura menuju bauran energi yang lebih beragam untuk menurunkan emisi.  


Chua menambahkan bahwa dalam jangka panjang, EMA juga memanfaatkan AI untuk mempertimbangkan dampak perubahan iklim seperti kenaikan suhu, guna memproyeksikan kondisi di masa depan dan memastikan keamanan pasokan energi Singapura.  

Regulasi untuk kemajuan  


Menekankan bahwa regulasi tidak menghambat inovasi, para pembicara menyoroti pentingnya mengatur hasil (outcomes), bukan teknologinya itu sendiri. 


Kebijakan yang visioner dengan standar keberlanjutan dan efisiensi energi yang jelas dapat membentuk perilaku industri tanpa memperlambat inovasi, ujar Chua.


Ia mencontohkan standar pusat data hijau dari Infocomm Media Development Authority (IMDA), yang menetapkan kebijakan dan standar bagi operator pusat data untuk mencapai efisiensi energi, serta kerangka kerja yang mendorong efisiensi perangkat teknologi informasi.


Pakar Regional Digital & AI UNDP untuk Asia Pasifik, Juan Kanggrawan, menyoroti pentingnya kebijakan dalam menjembatani teknologi dan tujuan keberlanjutan. Foto: GovInsider.

Pakar Regional Digital & AI UNDP untuk Asia Pasifik, Juan Kanggrawan, menambahkan bahwa kebijakan yang berpandangan ke depan dapat menjadi katalis di Asia Tenggara, mengingat konteks kawasan ini.  


“Kita bisa melihat sikap atau kebijakan ASEAN terkait energi dan AI, lalu mengaitkannya dengan kebijakan di tingkat negara, hingga ke tingkat provinsi atau bahkan kota,” ujarnya.  


Ia menambahkan bahwa negara-negara dapat mengembangkan kebijakan ini secara paralel dan saling belajar satu sama lain.  


“Jika Singapura memulai dari satu titik, kita (Indonesia) bisa belajar dari sana. Jika negara lain memulai dari pendekatan berbeda, kita juga bisa belajar. Bahkan dalam perumusan dan implementasi kebijakan, pendekatannya bisa sangat dinamis.” 


Jaringan listrik ASEAN (ASEAN Power Grid/APG), yang bertujuan menghubungkan jaringan listrik antarnegara anggota ASEAN untuk memungkinkan perdagangan listrik lintas batas dan menjamin pasokan energi yang andal, baru-baru ini menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang diperbarui untuk menyelaraskan aturan perdagangan listrik lintas negara.  


GovInsider sebelumnya juga melaporkan bahwa para pemimpin ASEAN menyerukan aksi bersama dalam mengembangkan pedoman regional untuk pertumbuhan AI, dengan mempertimbangkan tingkat kesiapan dan kebutuhan yang berbeda di setiap negara anggota. 

Kejelasan di semua lini 

  

Kejelasan dalam penggunaan teknologi dan tujuan keberlanjutan menjadi poin utama yang ditekankan para ahli.


Chua menekankan bahwa hal ini penting agar upaya keberlanjutan tetap fokus pada tujuan dan menjadi lebih efektif.  


Chief of Data Science & Digital Sustainability NUS-ISS, Clara Lee, menekankan peluang dalam mengintegrasikan keberlanjutan dengan tujuan bisnis. Foto: GovInsider.

Organisasi juga tidak seharusnya mengadopsi teknologi hanya karena sedang tren, tambah Kanggrawan.  


“Sebelum menerapkan AI atau teknologi baru lainnya, tentukan dengan jelas strategi organisasi, kebutuhan spesifik, dan apa yang ingin dicapai dalam tiga hingga sepuluh tahun ke depan. Mulailah dari hal kecil, yang mudah dicapai, tidak terlalu kompleks, lalu lakukan iterasi dan lihat dampaknya,” jelasnya.  


Chief of Data Science & Digital Sustainability NUS-ISS, Clara Lee, menambahkan bahwa pemahaman terhadap risiko keberlanjutan dapat membantu organisasi menyiapkan strategi mitigasi sekaligus membuka peluang manfaat – baik berupa keuntungan bagi sektor swasta maupun pencapaian target nasional bagi sektor publik.  


Dengan kejelasan ini, banyak perusahaan sukses menunjukkan bahwa tujuan bisnis dan keberlanjutan tidak saling bertentangan, ujar Lee. 


Dengan mengintegrasikan keberlanjutan ke seluruh operasi – mulai dari desain produk hingga rantai pasok – mereka mampu mempertahankan kinerja bisnis sekaligus menarik talenta.  


Ia memberikan contoh sederhana: “Jika Anda melihat situs web mereka, banyak yang menggunakan mode gelap (dark mode), yang lebih hemat energi dibandingkan mode terang. Dari situ terlihat bahwa keberlanjutan hadir dalam setiap aspek desain.” 

Tidak ada masa depan tanpa keberlanjutan 


Seiring pemerintah di seluruh dunia mendorong transformasi digital untuk meningkatkan layanan publik dan operasional, keberlanjutan harus menjadi inti dari diskusi.  


Memahami dampak lingkungan dari AI berarti mengambil pendekatan yang kritis dan holistik untuk menentukan di mana AI benar-benar memberikan nilai tambah, sehingga dapat digunakan secara lebih bijak.  


“Semua orang kini menyadari bahwa semakin banyak kita menggunakan AI, semakin besar konsumsi teknologi yang dibutuhkan. Ke depan, saya berharap kita tidak hanya mengukur dampak finansialnya, tetapi juga dampak lingkungannya, dan menjadikannya sebagai isu utama,” tutup Lee. 


Tonton video lengkapnya di sini