Pandu Putra, Direktur (Asia), Co-Develop, mantan Staf Khusus Menteri PANRB
Mengenal tokoh muda sektor publik dalam Laporan Young & Official 2026.

Pandu Putra, Direktur (Asia), Co-Develop, mantan Staf Khusus Menteri PANRB
1) Apa arti pelayanan publik bagi Anda? Bisakah Anda menceritakan lebih banyak tentang peran Anda di sektor publik?
Bagi saya, pelayanan publik adalah tentang membangun kepercayaan dalam skala besar. Masyarakat tidak menilai pemerintah dari seberapa canggih sistem yang dimilikinya, melainkan dari apakah mereka dapat mengakses layanan kesehatan, menerima bantuan, atau memperpanjang izin tanpa hambatan yang tidak perlu.
Saya telah bekerja di persimpangan antara teknologi, kebijakan, dan reformasi, mulai dari mendirikan berbagai inisiatif civic tech, membangun unit layanan digital Pemerintah Provinsi Jawa Barat, hingga berkontribusi pada agenda nasional Indonesia.
Saat ini saya menjadi Staf Khusus Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Indonesia bidang Transformasi Digital (Wawancara ini dilakukan sebelum Pandu pindah ke Co-Develop, -Red).
Pelajaran paling berharga yang saya dapatkan adalah bahwa transformasi tidak pernah semata-mata soal teknologi. Transformasi adalah tentang manusia. Ketika orang-orang menerima perlunya perubahan, maka hal-hal lainnya akan mengikuti.
2) Ceritakan tentang proyek yang Anda pelopori. Apa dampaknya bagi masyarakat?
Pada tahun 2018, saya mendirikan Jabar Digital Service, unit digital Pemerintah Provinsi Jawa Barat, berangkat dari keyakinan bahwa pemerintah dapat membangun solusi layaknya perusahaan teknologi, bukan sekadar membeli solusi layaknya kantor pengadaan.
Kami mengembangkannya menjadi tim beranggotakan 90 orang yang melayani 48 juta warga dengan talenta internal. Banyak alumni tim tersebut kini memegang berbagai peran dalam ekosistem pemerintahan digital Indonesia.
Gagasan yang sama kini dijalankan di tingkat nasional, yaitu memanfaatkan infrastruktur publik digital (digital public Infrastructure/DPI) untuk mereformasi cara negara melayani masyarakat. Dalam program perlindungan sosial, berbagi data yang tepercaya antarinstansi membuat proses verifikasi kelayakan sebuah keluarga untuk menerima bantuan—yang sebelumnya bisa memakan waktu hingga 200 hari—kini dapat diselesaikan hanya dalam hitungan menit.
Yang paling membanggakan bagi saya bukanlah teknologinya, melainkan bagaimana berbagai institusi yang sebelumnya selalu bekerja dalam sekat masing-masing kini dapat berkolaborasi dengan berpusat pada kebutuhan masyarakat.
3) Bagaimana latar belakang atau perspektif unik Anda membantu menemukan solusi yang mungkin terlewat oleh orang lain di organisasi Anda?
Saya masuk ke pemerintahan sebagai seorang pembangun (builder), bukan birokrat. Hal itu mengajarkan saya untuk melihat pemerintah dari sudut pandang masyarakat, bukan dari bagan organisasi. Pemerintah mengorganisasi dirinya berdasarkan kementerian dan regulasi, sementara masyarakat menjalani hidup berdasarkan berbagai momen penting: memulai usaha, memiliki anak, mengajukan bantuan, atau mencari layanan kesehatan.
Cara pandang itu mengubah pertanyaannya dari "bagaimana kita mendigitalisasi instansi ini?" menjadi "bagaimana kita menyederhanakan perjalanan masyarakat ini?"
Sebagian besar orang di dalam sebuah kementerian tidak pernah mengajukan pertanyaan kedua, karena mandat mereka berhenti di batas institusinya sendiri. Justru dengan melihat melampaui batas-batas itulah solusi-solusi yang selama ini terlewat dapat ditemukan.
4) Apa strategi pribadi Anda untuk menjaga energi kreatif ketika menghadapi birokrasi?
Saya tidak pernah menganggap birokrasi sebagai musuh. Birokrasi ada karena pemerintah harus menyeimbangkan kecepatan dengan akuntabilitas, keadilan, dan kesinambungan. Jadi tugas kita bukan menghilangkannya, melainkan membantunya berevolusi.
Ketika menghadapi penolakan, saya selalu bertanya apa yang menjadi penyebabnya: apakah karena prioritas yang saling bersaing, kekhawatiran terhadap risiko, atau ada seseorang yang belum didengarkan.
Tidak ada rumus pasti untuk mengoordinasikan negara sebesar Indonesia. Alat yang paling efektif bukanlah membujuk, melainkan mendengarkan. Setiap reformasi selalu memerlukan waktu lebih lama dari yang diperkirakan, tetapi setiap percakapan yang jujur membangun kepercayaan.
Di luar pekerjaan, istri dan anak-anak saya, teman-teman, serta makanan enak membantu saya tetap berenergi dan tidak kehabisan tenaga.
5) Jika hanya ada satu bidang yang bisa Anda pilih untuk mempercepat transformasi sektor publik, apa yang akan Anda pilih dan mengapa?
Talenta, tanpa ragu. Namun bukan hanya talenta, melainkan juga institusi yang mampu menaungi mereka.
Teknologi yang lebih murah maupun regulasi yang diperbarui tidak akan berarti tanpa orang-orang yang mampu menjembatani seorang menteri dengan seorang insinyur, dan menerjemahkan bahasa keduanya.
Namun merekrut mereka hanyalah setengah dari jawabannya. Mereka membutuhkan rumah kelembagaan agar dapat bekerja secara optimal. Itulah sebabnya banyak negara membangun lembaga GovTech khusus. Kemampuan yang dibangun dari dalam organisasi, bukan ketergantungan pada vendor, adalah yang akan memberikan manfaat berlipat dalam jangka panjang.
Saya juga akan menekankan pentingnya pola pikir yang berfokus pada perjalanan warga, bukan pada teknologinya. Karena itu kami memprioritaskan desain yang berpusat pada pengguna dan interoperabilitas, bukan sekadar aplikasi yang tampak canggih.
Perubahan pola pikir yang berorientasi pada pengguna, ditambah sistem yang benar-benar dapat saling terhubung, adalah yang menghasilkan transformasi yang benar-benar dirasakan masyarakat.
6) Apa ambisi terbesar Anda seiring berkembangnya karier di pelayanan publik?
Ambisi saya adalah membantu membangun institusi yang terus berkembang bahkan jauh setelah seorang pemimpin meninggalkan jabatannya. Terlalu banyak reformasi yang bergantung pada segelintir orang yang penuh semangat.
Bagi saya, itu berarti membangun pemerintahan yang tetap dekat dengan kebutuhan masyarakat, mampu bergerak lincah, serta memiliki kapasitas internal untuk bertindak tanpa harus menunggu pihak luar.
Begitulah cara pemerintah memperoleh kepercayaan masyarakat.
Secara pribadi, saya berharap dapat berkembang ke posisi-posisi dengan jangkauan pengaruh yang lebih luas, baik sebagai pejabat publik senior maupun di organisasi internasional.
Saya juga berharap Indonesia dapat berkontribusi lebih besar dalam percakapan global, karena jika pengalaman kita dapat membantu negara lain meningkatkan kehidupan warganya, berarti pekerjaan kita telah melampaui batas negara.
7) Apa "nilai universal" yang menyatukan semua orang di departemen Anda, dari peserta magang hingga direktur, dan bagaimana Anda memanfaatkannya untuk mendorong kolaborasi?
Tujuan.
Jabatan boleh berbeda, tetapi hampir semua orang bergabung dengan pelayanan publik karena, pada tingkat tertentu, mereka ingin membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik.
Saya juga realistis. Kesepahaman bahwa "tentu saja kita peduli kepada masyarakat" terkadang hanya berada di permukaan, sementara di baliknya orang-orang tetap melindungi anggaran, kewenangan, dan wilayah kerjanya masing-masing.
Namun bahkan kesepakatan yang hanya ada di permukaan pun tetap berguna, karena memberikan titik masuk sekaligus batasan bersama.
Ketika sebuah diskusi mulai bergeser menjadi soal politik atau perebutan wilayah kewenangan, kita bisa kembali pada satu pertanyaan: apa yang akan menciptakan pengalaman terbaik bagi orang yang menggunakan layanan ini?
Pertanyaan itu mengembalikan fokus semua orang pada tujuan yang setidaknya mereka semua akui sebagai prioritas. Biasanya, itu sudah cukup untuk membuat kolaborasi terus berjalan.
8) Apa nasihat terbaik yang pernah Anda terima untuk generasi berikutnya para pelayan publik?
Jangan menunggu memiliki kewenangan sebelum mengambil tanggung jawab. Anda tidak perlu memiliki jabatan tertinggi untuk memperbaiki sebuah proses atau memperkenalkan gagasan yang lebih baik. Namun bawalah idealisme Anda dengan kerendahan hati.
Banyak teknolog berbakat bergabung dengan pemerintahan dengan penuh keyakinan, tetapi kemudian mengalami kelelahan dalam waktu kurang dari satu tahun karena mereka tidak pernah benar-benar memahami bagaimana birokrasi bekerja.
Bersabarlah terhadap hasil, karena perubahan yang nyata membutuhkan waktu. Sering kali Anda harus mundur satu langkah agar nantinya dapat melangkah tiga langkah ke depan. Belajarlah melepaskan kepemilikan atas ide-ide Anda agar orang lain yang lebih tepat dapat membawanya maju, karena yang lebih penting adalah reformasinya, bukan siapa yang berada di garis depan.
Teknologi hanyalah alat.
Kepercayaan adalah infrastruktur sejati yang memungkinkan pemerintah berhasil.
9) Apa mitos tentang pegawai negeri muda yang ingin Anda patahkan?
Bahwa pegawai negeri muda hanyalah 'idealis yang tidak sabaran' dan pada akhirnya akan menyerah ketika menghadapi kenyataan cara kerja pemerintahan.
Memang ada sedikit benarnya bahwa kami sering tidak sabar. Banyak di antara kami frustrasi melihat lambatnya perubahan.
Namun frustrasi itu bukan berarti rapuh—justru sebaliknya. Pegawai negeri muda yang pernah bekerja bersama saya adalah beberapa orang paling tangguh yang saya kenal. Mereka memiliki harapan yang tinggi dan nilai-nilai yang kuat, serta terus bekerja keras dalam pekerjaan yang sering kali tidak terlihat dan minim penghargaan, hanya untuk mendorong perubahan sedikit demi sedikit, bahkan ketika akan jauh lebih mudah untuk menyerah atau sekadar menjalani rutinitas.
Ketangguhan bukan soal usia.
Ketangguhan adalah soal pola pikir, kerendahan hati, dan kemauan untuk terus hadir dan berkontribusi.
10) Tulislah surat untuk diri Anda di masa depan, pada tahun 2035.
Kepada Pandu,
Semoga kamu tidak pernah lupa bahwa pekerjaan ini selalu tentang manusia, bukan teknologi. Semoga kamu selalu mengukur keberhasilan dari apakah pemerintah menjadi lebih mudah diakses dan lebih manusiawi berkat sesuatu yang kamu bantu bangun, bukan dari jabatan yang pernah kamu pegang.
Tetaplah menjadi seorang pembangun. Semakin tinggi posisimu, semakin besar godaan untuk hanya berbicara tentang perubahan, alih-alih benar-benar mewujudkannya. Dan semoga istri serta anak-anakmu tetap tahu bahwa mereka selalu menjadi prioritas utama.
Jika suatu hari kamu harus memilih, semoga kamu mengingat mana yang tidak akan pernah bisa kamu dapatkan kembali.
Institusi memang penting.
Namun orang-orang yang kita layani, dan orang-orang yang kita cintai, jauh lebih penting.
Teruslah membangun keduanya.
-1783304403050.jpg)