Video: Kerendahan hati membantu pemerintah menyelesaikan masalah di era AI

Pemerintah tidak membutuhkan “silver bullet” untuk menghadapi era AI kecerdasan artifisial (AI), melainkan kerendahan hati untuk belajar dari berbagai sektor dan fokus menyelesaikan masalah nyata masyarakat, kata Juan Kanggrawan dari UNDP.

Regional Digital dan AI expert UNDP, Juan Kanggrawan, membagikan pengalamannya bekerja di sektor pemerintahan dan sektor swasta pada acara Festival of Innovation 2026. Foto: GovInsider

Ketika pemerintah semakin mempercepat transformasi kecerdasan artifisial (AI), tantangan terbesar bukan terletak pada teknologinya melainkan pada apakah institusi mampu mengedepankan kolaborasi lintas sektor dan memiliki sikap rendah hati untuk terus belajar.  


“Banyak orang berpikir ada silver bullet. Startup AI merasa bisa menyelesaikan semua masalah. Pemerintah merasa kebijakan bisa menyelesaikan semuanya. Namun menurut saya tidak begitu,” kata Regional Digital and AI expert dari UNDP, Juan Kanggrawan. 


Pada sesi wawancara di sela acara GovInsider Festival of Innovation di Singapura Maret lalu, Juan berbagi kepada Derek Alton dari Civic Punks perjalannya bekerja di pemerintahan dan berbagai sektor. 


“Pertama adalah kerendahan hati. Jangan merasa diri paling hebat. Jangan merasa tahu segalanya. Cobalah belajar dan bekerja bersama orang-orang dari berbagai perspektif.” 


Kedua adalah kemampuan menyelesaikan masalah nyata. Mengutip mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama, Kanggrawan mengatakan bahwa orang paling berharga dalam organisasi adalah mereka yang mampu mengeksekusi dan menyelesaikan pekerjaan. 


“Saya membutuhkan orang-orang yang bisa menyelesaikan sesuatu,” ujarnya seraya menambahkan bahwa prinsip tersebut berlaku di startup, pemerintahan, universitas, maupun organisasi internasional. 

Dari unicorn ke dampak publik 


Sebelum bergabung dengan UNDP, Juan menghabiskan bertahun-tahun bekerja di sektor teknologi Asia Tenggara, termasuk di perusahaan unicorn dan inisiatif kota pintar.


Perjalanannya masuk ke dunia pemerintahan dan pembangunan internasional bermula dari aktivitas sukarela yang ia lakukan antara Singapura dan Indonesia, ketika ia mulai terlibat dalam berbagai proyek sektor publik dan kegiatan sosial. 


Yang menarik perhatiannya adalah kesempatan untuk menghubungkan teknologi dengan kebijakan dan dampak nyata bagi masyarakat. 


“Saya merasa sangat puas karena bisa menggabungkan teknologi, kebijakan, dan dampak nyata,” katanya. 


Pengalaman tersebut juga membentuk pandangannya bahwa inovasi tidak bisa dibangun secara terpisah dan setiap sektor memiliki perspektif penting yang saling melengkapi. 

Meninjau ulang pilot project di pemerintahan 


Kanggrawan membagikan pengalamannya selama di pemerintahan di mana pemerintah sering kali sulit bergerak cepat karena proses pengadaan, regulasi, dan kompleksitas birokrasi.


Pilot project dapat menjadi cara untuk bereksperimen secara cepat sambil tetap mengelola risiko. 


“Bagi saya, pilot itu untuk low-hanging fruits. Kompleksitasnya rendah sampai menengah, tetapi dampaknya bisa menengah sampai tinggi,” katanya. 


Namun, ia juga mengingatkan bahwa tidak semua pilot yang berhasil harus otomatis diperluas secara nasional. 


Pilot yang berhasil di satu provinsi atau kota belum tentu cocok diterapkan di seluruh wilayah, terutama di negara dengan kondisi sosial, ekonomi, dan administratif yang sangat beragam. 


“Mungkin tiga sampai lima provinsi sudah cukup, tergantung kebutuhan, sumber daya, dan urgensinya,” ia menambahkan. 


Alih-alih melihat pilot semata-mata sebagai pembuktian sebelum implementasi besar-besaran, Kanggrawan menilai pemerintah juga perlu memandangnya sebagai mekanisme pembelajaran. Termasuk, belajar menerima kegagalan. 


“Di startup, kegagalan itu lebih normal. Akui, pelajari, lalu perbaiki ke depannya.” 


Juan menyoroti bahwa institusi publik sering kali lebih sulit mengakui program yang tidak berhasil karena adanya tekanan politik dan reputasi. 


Padahal tanpa eksperimen dan tanpa menerima bahwa sebagian inisiatif memang bisa gagal, inovasi akan sulit berkembang. 

Membawa pembelajaran regional 


Berkiprah di regional, Juan berharap pengalaman dari ekosistem digital yang lebih matang seperti Singapura dapat diadaptasi secara tepat di berbagai negara dan kota lain di kawasan.


Namun ia menekankan bahwa keberhasilan tidak datang dari sekadar menyalin model yang ada, melainkan memahami konteks lokal masing-masing wilayah. 


Fokus jangka panjangnya adalah memastikan transformasi digital dapat menjangkau kota-kota kecil dan wilayah pedesaan, bukan hanya terkonsentrasi di pusat-pusat kota besar. 


“Saya berharap perpaduan pengalaman ini bisa bermanfaat untuk berbagai implementasi di Asia-Pasifik,” ujarnya. 


Tonton video selengkapnya di bawah ini: