Visi Indonesia wujudkan kedaulatan antariksa dan menjadi pemain global
Kepala BRIN Arif Satria memaparkan strategi nasional Indonesia menuju kedaulatan antariksa, mencakup pengembangan satelit observasi bumi, pembangunan bandar antariksa, serta penguatan ekosistem keantariksaan.

Kepala BRIN Arif Satria menekankan pentingnya kemandirian dalam hal penguasaan teknologi satelit. Foto: BRIN
Bagi masyarakat Indonesia yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, kalimat "siaran ini terselenggara berkat Satelit Palapa" hampir selalu terdengar ketika menyaksikan siaran langsung pertandingan Piala Dunia atau acara televisi nasional dari saluran televisi resmi pemerintah, TVRI.
"Kalau kita ingat FIFA World Cup berapa puluh tahun lalu, kita kangen kata-kata ini," kata Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengawali pidatonya di acara Peringatan 50 Tahun Satelit Indonesia yang diselenggarakan oleh BRIN dan Kementerian Komunikasi dan Digital di Jakarta, 8 Juli.
Acara peringatan ini bertujuan merefleksikan setengah abad perjalanan tersebut sekaligus merumuskan arah kebijakan keantariksaan nasional ke depan.
Arif menjelaskan bahwa dengan luas zona ekonomi eksklusif seluas delapan juta kilometer persegi, Indonesia hanya bisa memantau dan mengelola wilayahnya secara efektif dengan bantuan teknologi satelit.
Karena itu, fokus pengembangan teknologi satelit ke depan bukan lagi sekadar prestise nasional, melainkan upaya membangun kedaulatan antariksa dan fondasi ekonomi masa depan Indonesia.
"Kemandirian berarti kemampuan bangsa untuk merancang, membangun, mengintegrasikan, menguji, meluncurkan, mengoperasikan, serta memanfaatkan satelit secara mandiri," katanya.
Satelit mandiri pertama anak bangsa
Komitmen kedaulatan antariksa itu akan diwujudkan dengan peluncuran satelit Nusantara Earth Observation-1 (NEO-1) pada Januari 2027 mendatang. NEO-1 adalah satelit observasi bumi pertama yang dibuat secara mandiri oleh Indonesia.
"Peluncuran NEO-1 ini akan menjadi tonggak penting yang menunjukkan bahwa Indonesia semakin mampu menguasai seluruh rantai teknologi satelit," kata Arif.
Satelit tersebut memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sekitar 65 persen dan sebagian besar proses pengembangannya – mulai dari perancangan misi, desain sistem, integrasi, pengujian, perangkat lunak, hingga operasi – dilakukan di dalam negeri.
Dengan kemampuan pencitraan resolusi tinggi dan menengah serta dilengkapi penerima Automatic Identification System (AIS), satelit ini akan digunakan untuk mendukung observasi bumi yang mencakup pemetaan wilayah, pemantauan pertanian, kehutanan, kelautan, mitigasi bencana, serta layanan publik.
Arif menambahkan bahwa peluncuran NEO-1 ini bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari perjalanan besar menuju kedaulatan antariksa Indonesia.
Target Indonesia berikutnya adalah memproduksi satelit telekomunikasi nasional untuk memenuhi kebutuhan konektivitas Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia sekaligus menjadi tulang punggung ekonomi digital nasional.
Ambisi mewujudkan bandar antariksa nasional
Dengan memasukkan tiga dimensi daya saing (space economy, space sustainability, dan space defense) ke dalam cetak biru pengembangan antariksa nasional, Indonesia bercita-cita menjadi pemain antariksa global, kata Arif.
Salah satu agenda strategis BRIN untuk mewujudkan visi tersebut adalah pembangunan bandar antariksa nasional.
“Bandar ini diharapkan menjadi gerbang akses Indonesia menuju ruang angkasa sekaligus simbol utama ekosistem antariksa nasional."
Menurutnya, posisi geografis Indonesia di sekitar garis khatulistiwa memberikan efisiensi peluncuran lebih tinggi sehingga menjadi salah satu keunggulan.
Lewat bandar antariksa nasional, BRIN berharap Indonesia tidak lagi sepenuhnya bergantung pada penyedia jasa peluncuran luar negeri, bahkan mampu menjadi penyedia layanan peluncuran bagi negara lain di kawasan.
Arif menggarisbawahi bahwa ambisi kedaulatan antariksa ini tidak akan berhasil tanpa kolaborasi erat antara pemerintah, BRIN, sektor swasta, komunitas internasional dan pemangku kepentingan sektor antariksa lainnya.
Kedaulatan antariksa dimulai dari data
Pada sesi diskusi panel Perjalanan dan Transformasi Industri Satelit Indonesia, sejumlah pembicara membahas tantangan yang dihadapi Indonesia dalam mewujudkan ambisi mencapai kedaulatan antariksa.
Kepala Organisasi Riset Penerbangan Antariksa BRIN, Heru Triharjanto, menyoroti bahwa kedaulatan antariksa tidak akan terwujud tanpa memastikan Indonesia memiliki kendali atas data strategis yang dihasilkan dari ruang angkasa, khususnya data spasial.
Selama ini, meskipun pengolahan data satelit telah dilakukan di dalam negeri, sumber data utama masih banyak bergantung pada satelit milik negara atau vendor asing. Ketergantungan tersebut membatasi akses terhadap data yang cepat, berkelanjutan, dan sesuai dengan kebutuhan nasional.
“Mindset yang dulu hanya membeli satelit dari Amerika Serikat (AS) atau harus menggunakan [teknologi] dari luar negeri ini harus diubah,” katanya.
Dengan peluncuran NEO-1, pemerintah akan memiliki kewenangan penuh atas data spasial dan memudahkan pemerintah menyusun kebijakan yang berkaitan dengan kedaulatan negara.
“Yang jelas, tidak akan ada lagi illegal fishing karena semua yang masuk teritorial kita bisa langsung teridentifikasi dan petugas bisa langsung menangkap,” tambahnya.
Industri dan talenta, mana lebih dulu?
Tantangan berikutnya adalah menjawab problem klasik antara ketersediaan sumber daya manusia antariksa dengan pertumbuhan industri.
Ketua Umum Asosiasi Antariksa Indonesia Adi Rahman Adiwoso menyoroti bahwa ekosistem industri satelit di Indonesia selalu berada pada situasi “ayam dan telur”: tenaga ahli antariksa minim dan pertumbuhan industri satelit belum optimal.
“Namun, industri tidak bisa menunggu solusi sempurna untuk memulai. Saya pilih pecahkan telurnya dan figure out later on,” katanya.
Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menawarkan solusi jangka pendek dengan membangun pusat keunggulan (center of excellence) antariksa di satu universitas atau politeknik terlebih dahulu.
“Kalau kita mulai dari nol ini terlalu sulit. Kita petakan bidang antariksa mana yang paling memungkinkan untuk diprioritaskan.”
Stella menambahkan bahwa kementeriannya akan mengirimkan dosen untuk pelatihan di luar negeri melalui pendekatan train the trainer.
Heru menambahkan, bahwa Indonesia bisa banyak belajar dari negara lain yang berhasil membangun ekosistem antariksa mereka melalui sinergi antara pemerintah, industri dan akademisi, seperti AS, China atau India.
-1783304403050.jpg)