Kaleb Sihombing, Analis Kebijakan, Kementerian PANRB
Oleh Mochamad Azhar
Mengenal tokoh muda sektor publik dalam Laporan Young & Official 2026.

Kaleb Sihombing, Analis Kebijakan, Kementerian PANRB. Foto: Kaleb Sihombing
1) Apa arti pelayanan publik bagi Anda? Dapatkah Anda menceritakan lebih lanjut tentang peran Anda di sektor publik?
Ketika saya melamar menjadi aparatur sipil negara pada tahun 2021, saya dengan sengaja mencari institusi yang dapat menciptakan dampak sistemik dan lintas sektor di seluruh pemerintahan, bukan hanya di satu sektor saja. Hal ini membawa saya ke Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), di mana saya kini bertugas sebagai Analis Kebijakan untuk transformasi digital pemerintahan, sebuah bidang yang dinamis di mana perubahan adalah sebuah keniscayaan.
Bagi saya, pelayanan publik adalah sarana untuk mewujudkan keadilan sosial. Oleh karena itu, transformasi digital dalam pelayanan publik tidak boleh memperkenalkan kerumitan administratif. Sebaliknya, transformasi digital harus berfokus pada aksesibilitas dan inklusivitas, menjadikan kehidupan lebih sederhana dan mudah bagi warga negara yang kita layani.
2) Ceritakan tentang proyek yang Anda perjuangkan. Apa dampaknya bagi masyarakat?
Pada tahun kedua saya sebagai aparatur sipil negara, saya berkontribusi dalam penyusunan peraturan presiden tentang percepatan transformasi digital dan integrasi layanan digital nasional. Meskipun dampak langsung bagi masyarakat merupakan proses jangka panjang, momentum perubahan telah dimulai.
Dengan menetapkan regulasi ini, kami sedang meruntuhkan silo-silo birokrasi dan meletakkan fondasi agar masyarakat pada akhirnya dapat merasakan layanan publik digital yang mulus dan terintegrasi.
3) Sebagai profesional muda, bagaimana latar belakang atau perspektif unik Anda memungkinkan Anda mengidentifikasi solusi yang mungkin terlewatkan oleh orang lain di organisasi Anda?
Perspektif saya dibentuk oleh perpaduan latar belakang hukum dan peran saya dalam merumuskan kebijakan nasional untuk transformasi digital pemerintahan.
Di bidang ini, sering kali terdapat kesenjangan: para inovator teknologi cenderung mendorong adopsi digital yang cepat tanpa sepenuhnya memperhatikan batasan regulasi, sementara para tradisionalis hukum sering kali mengutamakan kepatuhan di atas kelincahan.
Memiliki kaki di kedua dunia memungkinkan saya untuk menerapkan dosis skeptisisme yang sehat. Dengan menjembatani hukum dan teknologi, saya mampu merumuskan kebijakan yang mendorong integrasi antar lembaga pemerintah, sehingga memastikan pengalaman yang lebih sederhana bagi warga negara.
4) Apa strategi pribadi Anda untuk menjaga energi kreatif saat menghadapi birokrasi?
Strategi saya bertumpu pada sebuah kerangka kerja yang saya kembangkan untuk memetakan beban kerja saya, dengan mengkategorikan tugas ke dalam tiga elemen: administrasi, koordinasi, dan substansi. Dalam birokrasi, beban administratif sering kali menyerap proporsi terbesar dari energi harian kita.
Meskipun kita tetap perlu memastikan kepatuhan dalam rutinitas administratif sehari-hari, energi kreatif saya diarahkan pada bagaimana kita berkoordinasi secara efektif dan bagaimana kita menganalisis inti substansi dari sebuah kebijakan.
Selain itu, selalu ada risiko menjadi terlalu optimis dan terjebak dalam pencapaian administratif, menciptakan kebijakan di dalam gelembung delusi yang terasa terputus dari kenyataan. Dengan menerapkan derajat pesimisme strategis, saya tetap jujur secara brutal terhadap kendala-kendala birokrasi yang kita hadapi.
Hal ini memungkinkan saya untuk fokus pada akar permasalahan dan mengarahkan energi saya untuk membangun solusi yang praktis dan berdampak.
5) Jika Anda hanya bisa berinvestasi pada satu hal untuk mempercepat transformasi sektor publik, apa yang akan Anda pilih dan mengapa?
Jika saya hanya bisa memilih satu hal, saya akan berinvestasi pada regulasi. Meskipun banyak yang cenderung memilih teknologi atau talenta, regulasi memiliki kekuatan unik untuk menciptakan dampak struktural yang jauh melampaui keterbatasan individu kita. Regulasi yang baik dan tahan masa depan berperan sebagai pengganda.
Alih-alih sekadar mengelola sistem yang ada, regulasi memaksa kita untuk mengadopsi teknologi yang lebih baik dan meningkatkan standar bagi talenta kita.
Dalam birokrasi yang sebesar Indonesia, kita membutuhkan kerangka regulasi yang adaptif untuk melembagakan perubahan dan memastikan transformasi berjalan secara berkelanjutan dalam skala nasional.
6) Apa ambisi terbesar Anda seiring berkembangnya karier Anda di pelayanan publik?
Saya tidak memiliki tujuan karier yang naif atau terlalu ambisius. Ambisi saya hanyalah sebuah harapan diam-diam bahwa suatu hari Indonesia dapat menjadi tempat yang benar-benar menyenangkan dan adil untuk ditinggali, yang didorong oleh tata kelola yang baik.
Perasaan ini dibagikan oleh banyak aparatur sipil muda saat ini, yang bagi mereka mendaki tangga karier bukan lagi satu-satunya tujuan hidup. Kami tidak pasif. Kami memilih untuk sepenuhnya hadir dan bekerja secara profesional sesuai kapasitas kami. Dengan berfokus pada pelaksanaan pekerjaan sehari-hari dengan baik, kami melindungi diri dari kelelahan sambil tetap berkontribusi secara bermakna.
7) Apa "nilai universal" yang menghubungkan semua orang di departemen Anda — dari magang hingga direktur — dan bagaimana Anda menggunakannya untuk mendorong kolaborasi?
Nilai universal yang menghubungkan tim saya adalah proaktivitas individu. Tim kami terdiri dari para profesional yang secara proaktif mencari solusi alih-alih menunggu instruksi dari atas. Nilai ini sangat penting dalam mengatasi hambatan kelembagaan. Ketika beban kerja memuncak dan pimpinan tidak memiliki waktu untuk mendelegasikan setiap tugas, inisiatif kami untuk mengorganisir diri sendiri membuat segalanya tetap berjalan.
Saya mendorong kolaborasi dengan memperlakukan setiap orang sebagai pemecah masalah yang otonom, yang bekerja sama karena kami secara kolektif peduli terhadap substansi pekerjaan kami.
8) Apa nasihat terbaik yang ingin Anda sampaikan untuk generasi berikutnya aparatur sipil?
Nasihat terbaik yang dapat saya berikan adalah bahwa leverage tertinggi kita dalam birokrasi adalah kompetensi dan etos kerja profesional kita. Sebagai aparatur sipil muda, kita pasti akan menghadapi momen-momen di mana kita tidak setuju dengan suatu kebijakan atau menyaksikan instruksi yang bertentangan dengan pandangan idealis kita.
Dalam momen-momen itu, kita tidak boleh membiarkan standar kita turun. Kita perlu memahami posisi kita saat ini dan memusatkan energi kita pada bagian pekerjaan yang benar-benar dapat kita tingkatkan, sekecil apa pun itu.
Kita dihadapkan pada dua pilihan: kita bisa menyerah dan hanyut mengikuti kelemahan sistem, atau kita bisa memilih untuk bersabar, mengasah kompetensi, dan berfokus pada perubahan-perubahan bertahap di mana kita berdiri.
Jika setiap profesional yang kompeten memutuskan untuk pergi (atau tetap tinggal namun berdiam diri), birokrasi akan mengalami brain drain, dan segalanya tidak akan pernah maju. Hingga posisi kita meningkat untuk memberikan dampak yang lebih luas, tugas kita adalah menjaga etos kerja dan tetap bertahan dalam permainan ini.
9) Mitos apa yang ingin Anda luruskan tentang aparatur sipil muda?
Mitos yang beredar adalah bahwa aparatur sipil muda adalah para idealis yang naif dan terlalu optimis, yang ingin mengganggu segalanya tanpa memahami kendala dunia nyata.
Pada kenyataannya, banyak dari kami memiliki rasa skeptisisme praktis yang tajam. Kami memahami bahwa optimisme buta dalam birokrasi sering kali mengasingkan publik karena menghasilkan tujuan-tujuan yang tidak peka dan tidak realistis. Kami tidak hidup dalam gelembung.
Dengan menyeimbangkan harapan kami akan sistem yang lebih baik dengan dosis pesimisme yang sehat, kami melatih diri untuk jujur terhadap kelemahan-kelemahan administratif.
Tujuan kami bukanlah memproyeksikan visi-visi delusi, melainkan membangun layanan publik yang realistis dan fungsional yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.
10) Tulislah surat untuk diri Anda di masa depan pada tahun 2035.
Untuk diriku sendiri, tetaplah waras, jaga integritasmu dan etos kerjamu, serta pertahankan dosis pesimismemu yang sehat.
-1783304403050.jpg)