Nugroho Arief Prasetyo, Analis Kebijakan, Kementerian PANRB

Mengenal tokoh muda sektor publik dalam Laporan Young & Official 2026.

Nugroho Arief Prasetyo, Analis Kebijakan, Kementerian PANRB.

1) Apa arti pelayanan publik bagi Anda? Dapatkah Anda menceritakan lebih lanjut tentang peran Anda di sektor publik?   

Pelayanan publik, bagi saya, berawal dari sebuah kegelisahan sederhana: kesadaran bahwa pemerintah terkadang terasa begitu jauh dari masyarakat yang seharusnya dilayaninya.  


Seorang warga tidak seharusnya harus memahami batas-batas kelembagaan hanya untuk mendapatkan layanan. Sebuah keluarga tidak seharusnya perlu mengulang informasi yang sama kepada berbagai instansi. Dan seseorang tidak seharusnya merasa tersesat dalam sistem yang dibangun atas nama mereka.  


Karena itu, saya memandang pelayanan publik sebagai upaya yang sabar dan berkelanjutan untuk memperpendek jarak antara negara dan warganya. 


Saya bertugas di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), pada Deputi Bidang Transformasi Digital Pemerintahan. Peran saya mendukung perumusan kebijakan, koordinasi antarinstansi, kerja sama internasional, serta pengembangan kerangka kerja yang membantu mewujudkan pemerintahan digital yang lebih terintegrasi, akuntabel, dan berpusat pada masyarakat. 


Saya hanyalah bagian kecil dari upaya yang jauh lebih besar. Namun saya bersyukur dapat berkontribusi pada pekerjaan yang mengajukan satu pertanyaan penting: bagaimana pemerintah tidak hanya menjadi lebih digital, tetapi juga lebih manusiawi? 


Bagi saya, pelayanan publik bukanlah tentang berada di pusat perubahan. Pelayanan publik adalah tentang membantu sistem bergerak lebih dekat kepada masyarakat. 

2) Ceritakan tentang proyek yang Anda perjuangkan. Apa dampaknya bagi masyarakat?  


Salah satu kontribusi yang paling saya hargai adalah keterlibatan saya dalam upaya mengubah cara Indonesia mengukur kinerja pemerintahan digital. Selama bertahun-tahun, transformasi pemerintahan sering kali dinilai berdasarkan dokumen, sistem, dan kepatuhan administratif.


Fondasi-fondasi tersebut memang penting. Namun, semuanya belum tentu menjawab pertanyaan yang paling berarti bagi masyarakat: apakah pemerintah kini lebih mudah diakses, lebih sederhana digunakan, dan lebih layak dipercaya? 

  

Melalui agenda reformasi di kementerian kami, saya bersyukur dapat mendukung pengembangan Indeks Pemerintahan Digital Indonesia yang baru. Instrumen ini mengubah pendekatan penilaian dari 47 indikator yang berorientasi pada kepatuhan menjadi 20 indikator yang lebih berfokus pada hasil. Indeks tersebut memberikan perhatian yang lebih besar pada tata kelola data, keamanan siber, teknologi digital, integrasi layanan, serta kepuasan masyarakat, yang memiliki bobot terbesar, yakni 25 persen. 


Perubahan ini penting karena cara kita mengukur akan membentuk perilaku institusi. Pada saat yang sama, prinsip keterbukaan, partisipasi, dan akuntabilitas kini semakin terintegrasi dalam cara pemerintah digital dievaluasi.  


Pemerintahan terbuka tidak boleh berhenti sebagai janji, pidato, atau gerakan semata. Ia harus menjadi bagian dari standar yang digunakan untuk menilai kinerja institusi. 


Indeks ini akan diterapkan di lebih dari 640 kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah di seluruh Indonesia. Dampaknya bukan hanya bersifat administratif, tetapi juga kelembagaan.  


Indeks ini membantu menggeser keterbukaan dari sekadar advokasi menjadi akuntabilitas, dari aspirasi menjadi instrumen penilaian, dari sesuatu yang hanya didorong menjadi sesuatu yang memang diharapkan. 


Saya merasa rendah hati dapat menjadi bagian dari perjalanan tersebut. 


Karena keterbukaan tidak cukup hanya dideklarasikan. Keterbukaan harus diukur. Dan ketika keterbukaan menjadi bagian dari evaluasi, ia mulai menjadi bagian dari cara institusi bekerja. 

3) Sebagai profesional muda, bagaimana latar belakang atau perspektif unik Anda memungkinkan Anda mengidentifikasi solusi yang mungkin terlewatkan oleh orang lain di organisasi Anda? 


Sebelum bergabung di sektor publik, saya bekerja sebagai jurnalis. Dunia jurnalistik mengajarkan saya untuk mendengarkan lebih dari sekadar bahasa resmi. Saya belajar bahwa setiap kebijakan memiliki dua kehidupan: satu di dalam dokumen pemerintah, dan satu lagi dalam pengalaman sehari-hari masyarakat. 


Kemudian, ketika mempelajari e-Government dan Manajemen Publik di Yonsei University, Korea Selatan, saya semakin memahami bahwa teknologi bukanlah jawaban atas segalanya. Pemerintahan digital yang kuat dibangun bukan hanya melalui platform digital, tetapi juga melalui kepercayaan, kelembagaan, koordinasi, disiplin, dan kerendahan hati. 


Pengalaman-pengalaman tersebut membentuk cara saya memandang reformasi. 


Saya berusaha melihat transformasi digital dari dua sisi sekaligus: dari perspektif institusi yang merancangnya, dan dari perspektif masyarakat yang harus menggunakannya. Terkadang, pertanyaan yang justru terlewat bukanlah, "Bagaimana kita mendigitalisasi proses ini?" melainkan, "Mengapa proses ini masih menjadi beban?" 


Pertanyaan itu penting. Sebab inovasi di sektor publik seharusnya tidak hanya diukur dari apa yang berhasil diciptakan pemerintah, tetapi juga dari beban-beban yang berani dihilangkan pemerintah. 

4) Apa strategi pribadi Anda untuk menjaga energi kreatif saat menghadapi birokrasi? 


Saya berusaha tetap sabar tanpa menjadi pasif. Birokrasi memang bisa berjalan lambat. Namun, kelambatan tidak selalu berarti tidak ada kemajuan. Di balik setiap prosedur terdapat orang-orang, tanggung jawab, risiko, dan sejarah yang perlu dipahami sebelum dapat diperbaiki. 


Strategi saya adalah terus belajar. Ketika menghadapi persoalan yang kompleks, saya membaca. Saya mendengarkan. Saya bertanya. Saya berdiskusi dengan rekan kerja. Saya belajar dari pengalaman pemerintah di negara lain. Dan saya selalu kembali melihat persoalan dari sudut pandang masyarakat.  


Kreativitas dalam pemerintahan jarang hadir dalam bentuk yang mencolok. Lebih sering, ia hadir dalam disiplin yang tenang untuk menemukan cara yang lebih baik tanpa mengorbankan kepercayaan yang harus dijaga oleh institusi.  


Birokrasi seharusnya tidak mematikan kreativitas. Sebaliknya, birokrasi seharusnya menyempurnakannya menjadi kesabaran, berbasis bukti, dan rasa tanggung jawab. 

5) Jika Anda hanya bisa berinvestasi pada satu hal untuk mempercepat transformasi sektor publik, apa yang akan Anda pilih dan mengapa? 


Saya akan berinvestasi pada cara pemerintah mengukur keberhasilan. Sebab institusi akan berkembang sesuai dengan apa yang mereka ukur. 

  

Jika keberhasilan diukur dari jumlah sistem yang dibangun, pemerintah akan terus membangun lebih banyak sistem. Jika keberhasilan diukur dari jumlah dokumen yang dihasilkan, pemerintah akan menghasilkan lebih banyak dokumen.  


Namun, jika keberhasilan diukur dari seberapa mudah masyarakat memperoleh layanan, seberapa efektif instansi bekerja sama, dan seberapa besar kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, maka institusi akan mulai menata dirinya untuk menciptakan nilai bagi publik. 


Teknologi itu penting. Talenta juga penting. Regulasi pun penting. Namun, cara kita mengukur keberhasilan secara diam-diam membentuk semuanya. Dalam banyak hal, indikator yang kita pilih pada akhirnya menentukan arah yang kita tempuh. Indikator memberi tahu institusi apa yang penting, apa yang dihargai, dan apa yang harus terus diperbaiki.  


Karena itu, saya percaya bahwa pengukuran bukan sekadar latihan teknis. Pengukuran adalah salah satu instrumen reformasi yang paling kuat. 

6) Apa ambisi terbesar Anda seiring berkembangnya karier Anda di pelayanan publik? 


Cita-cita terbesar saya adalah tetap menjadi seseorang yang bermanfaat bagi pekerjaan ini. Bukan untuk dikenang sebagai sosok di balik sebuah reformasi, melainkan menjadi bagian dari reformasi yang membuat masyarakat merasakan layanan pemerintah yang lebih mudah diakses, lebih bermartabat, dan lebih dapat dipercaya. 


Saya berharap dapat terus berkontribusi dalam membangun institusi yang lebih terbuka, lebih terintegrasi, dan lebih manusiawi. Institusi di mana masyarakat tidak perlu memahami kerumitan birokrasi hanya untuk memperoleh hak-haknya. Institusi di mana transformasi digital tidak membuat pelayanan publik terasa semakin dingin, melainkan semakin dekat dengan masyarakat.  


Jika sistem yang kami bangun hari ini dapat melayani masyarakat dengan lebih baik di masa depan, bahkan ketika nama kami tidak lagi melekat padanya, itulah warisan yang benar-benar bermakna.  


Pelayanan publik, dalam bentuk terbaiknya, bukan tentang meninggalkan tanda tangan kita. Melainkan tentang meninggalkan institusi yang lebih baik. 

7) Apa "nilai universal" yang menghubungkan semua orang di departemen Anda — dari magang hingga direktur — dan bagaimana Anda menggunakannya untuk mendorong kolaborasi? 


Nilai universal itu adalah martabat (dignity). Seperti yang sering saya dengar dari Menteri PANRB, Ibu Rini Widyantini, pelayanan publik harus diberikan dengan menjunjung tinggi martabat. Masyarakat tidak hanya berhak dilayani dengan cepat, tetapi juga dengan penuh rasa hormat. 

Pesan itu selalu melekat dalam diri saya. 


Setiap orang yang berinteraksi dengan pemerintah memiliki martabat yang harus dihormati: warga yang sedang menunggu layanan, pegawai yang menangani koordinasi yang rumit, peserta magang yang menyiapkan bahan rapat, hingga direktur yang memikul tanggung jawab kelembagaan.  


Transformasi digital seharusnya melindungi dan memperkuat martabat tersebut. Di departemen kami, peran setiap orang mungkin berbeda, tetapi tujuan kami sama, yaitu membantu pemerintah melayani masyarakat dengan lebih baik.  


Ketika kolaborasi menjadi rumit, saya selalu kembali pada satu pertanyaan sederhana: Apakah ini akan membantu masyarakat memperoleh layanan dengan martabat yang lebih baik? 


Pertanyaan itu mengembalikan semua orang pada tujuan yang sama. Pertanyaan itu mengingatkan kami bahwa koordinasi bukan sekadar pekerjaan administratif. Koordinasi adalah tanggung jawab moral, karena di balik setiap sistem selalu ada manusia yang menunggu untuk dilayani. 

8) Apa nasihat terbaik yang ingin Anda sampaikan untuk aparatur sipil generasi berikutnya? 


Jangan memasuki pelayanan publik hanya untuk terlihat. Masuklah untuk melayani hal-hal yang sering kali tidak terlihat.  


Sebagian besar pekerjaan pemerintah berlangsung dalam keheningan: menyusun naskah kebijakan yang lebih baik, memperjelas sebuah regulasi, menjalankan rapat koordinasi dengan cermat, memperbaiki satu kalimat agar mampu melindungi lebih banyak orang, atau mengajukan satu pertanyaan yang membuat sebuah keputusan menjadi lebih adil. 

  

Hal-hal kecil seperti itu mungkin tidak pernah mendapat tepuk tangan. Namun, justru itulah yang penting. Milikilah kerendahan hati untuk belajar dari mereka yang datang lebih dahulu. Milikilah keberanian untuk mengajukan pertanyaan yang lebih baik. Milikilah kesabaran untuk memahami sistem. Dan yang terpenting, milikilah prinsip agar tidak kehilangan tujuan ketika berada di dalam sistem tersebut. 


Pelayanan publik akan menguji idealisme Anda. Biarkan pengalaman itu mendewasakan Anda, tetapi jangan pernah membiarkannya membuat Anda menjadi apatis. 

9) Mitos apa yang ingin Anda luruskan tentang aparatur sipil muda? 


Mitos yang ingin saya luruskan adalah anggapan bahwa aparatur sipil muda hanya membawa ambisi. Padahal banyak di antara mereka yang membawa sesuatu yang jauh lebih tenang, tetapi sama pentingnya: ketulusan. 


Mereka mungkin belum memiliki pengalaman puluhan tahun, tetapi mereka sering kali memiliki kemauan yang besar untuk belajar, berkontribusi, dan membantu institusi merespons perubahan masyarakat.  


Menjadi muda bukan berarti menolak masa lalu. Menjadi muda berarti memiliki energi untuk menghargai apa yang masih berjalan dengan baik, mempertanyakan apa yang sudah tidak lagi relevan, dan membantu mempersiapkan pemerintah menghadapi masa depan.  


Aparatur sipil muda tidak perlu berpura-pura memiliki semua jawaban.  


Terkadang kontribusi mereka justru lebih sederhana, tetapi tetap bermakna: mengajukan pertanyaan yang jujur, menghubungkan gagasan-gagasan baru, dan mengingatkan institusi bahwa harapan masyarakat terus berubah.  

10) Tulislah surat untuk diri Anda di masa depan pada tahun 2035. 


Kepada Nunu di masa depan,  


Semoga kamu selalu sehat. Semoga sekarang kamu juga lebih baik dalam memperlakukan dirimu sendiri. Semoga kamu masih mengingat dirimu yang lebih muda, yang terus berusaha meskipun hari-harinya panjang dan malam-malamnya terasa lebih panjang lagi. Semoga kamu tetap setia pada alasan yang membuatmu memilih jalan pelayanan publik. 

  

Semoga tanggung jawab telah membuatmu lebih bijaksana, tetapi tidak membuatmu berjarak dari orang lain. Semoga pengalaman membuatmu lebih tenang, tetapi tidak membuatmu kehilangan kepedulian.  


Dan jika suatu hari pengakuan datang, semoga itu tidak membuatmu melupakan martabat yang sunyi dari pekerjaan ini. Ingatlah bahwa pemerintah bukanlah mesin yang abstrak. Pemerintah adalah janji yang dibuat kepada masyarakat. 


Semoga pekerjaan yang pernah kamu lakukan telah membantu institusi menjadi lebih terbuka, lebih dipercaya, dan lebih manusiawi. Dan jika suatu hari namamu tidak lagi diingat, biarlah itu sudah cukup. Reformasi terbaik bukanlah reformasi yang menyandang nama kita, melainkan reformasi yang terus melayani masyarakat bahkan setelah kita melangkah pergi. 


Teruslah mendengarkan sebelum mengambil keputusan. Teruslah belajar sebelum memimpin. Teruslah melayani sebelum ingin dilihat. Dan ketika pekerjaan terasa berjalan lambat, ingatlah malam-malam ketika kamu pulang larut, draf yang berkali-kali kamu tulis ulang, rapat-rapat yang kamu persiapkan, serta harapan-harapan kecil yang diam-diam kamu bawa ke kantor setiap hari.  


Banggalah pada dirimu sendiri, bukan karena kamu berhasil mengubah segalanya, tetapi karena kamu terus hadir dan berusaha. 


Kamu telah melayani dengan tulus. Kamu telah belajar dengan rendah hati. Kamu telah terus mencoba, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat. 


Dan itu pun adalah pelayanan publik. 


Dengan penuh rasa syukur, dan kebanggaan yang tenang atas pribadi yang telah kamu pilih, 


Dirimu yang lebih muda.