Syifa Ulhadira, Analis Hukum, Kementerian Kesehatan
Mengenal tokoh muda sektor publik dalam Laporan Young & Official 2026.

Syifa Ulhadira, Analis Hukum, Kementerian Kesehatan
1) Apa arti pelayanan publik bagi Anda? Dapatkah Anda menceritakan lebih lanjut tentang peran Anda?
Bagi saya, pelayanan publik bukan sekadar menjalankan tugas atau memenuhi kewajiban administratif, melainkan tentang memastikan bahwa setiap kebijakan yang ditulis benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Satu kalimat dalam sebuah regulasi dapat menentukan bagaimana rumah sakit beroperasi, bagaimana tenaga medis dan tenaga kesehatan menjalankan profesinya, serta bagaimana masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan yang adil, aman, dan berkualitas.
Saya bekerja di Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, yang memiliki peran dalam penyusunan dan penguatan kebijakan terkait penyelenggaraan rumah sakit dan pelayanan kesehatan lanjutan. Peran saya memang tidak berada di ruang operasi atau ruang perawatan yang langsung berhadapan dengan pasien.
Namun, di balik layar, saya memiliki komitmen untuk memastikan bahwa setiap kerangka regulasi dan kebijakan yang disusun mampu membangun sistem pelayanan kesehatan yang lebih aman, bermutu, efektif, dan berkeadilan.
Ada sebuah keyakinan yang selalu saya pegang: “Tidak semua perubahan terjadi di garis depan. Sebagian perubahan terbesar justru lahir dari keputusan, kebijakan, dan regulasi yang disusun dengan baik di balik layar.”
Mungkin masyarakat tidak mengenal siapa yang menyusun sebuah regulasi, tetapi mereka akan merasakan dampaknya ketika memperoleh pelayanan yang lebih baik, ketika rumah sakit memiliki standar yang lebih jelas, dan ketika tenaga kesehatan dapat bekerja dalam sistem yang lebih kuat dan lebih melindungi.
2) Ceritakan proyek penting yang Anda pelopori. Apa dampaknya terhadap masyarakat?
Salah satu perjalanan profesional yang paling berkesan bagi saya adalah keterlibatan dalam transformasi regulasi kesehatan nasional pasca ditetapkannya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.
Saya terlibat dalam proses penyusunan berbagai regulasi turunannya, termasuk Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 sebagai peraturan pelaksanaan UU Kesehatan, serta Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 6 Tahun 2026 tentang Rumah Sakit yang menjadi landasan baru dalam penyelenggaraan rumah sakit di Indonesia.
Transformasi regulasi ini tidak sekadar memperbarui aturan yang telah berlaku selama puluhan tahun, tetapi juga membangun fondasi baru bagi sistem kesehatan Indonesia, mulai dari penyelenggaraan pelayanan rumah sakit, tata kelola rumah sakit, peningkatan mutu pelayanan, keselamatan pasien, hingga penguatan pengawasan pelayanan kesehatan.
Sebelumnya, saya juga pernah menjadi bagian dari Pusat Analisis, Harmonisasi, dan Sinergi Sistem dan Strategi Kementerian Kesehatan, yang memiliki tugas untuk mendukung Menteri Kesehatan dan Wakil Menteri Kesehatan dalam penyusunan bahan kebijakan, analisis strategis, serta pengambilan keputusan di sektor kesehatan.
Pengalaman tersebut memberikan kesempatan yang sangat berharga bagi saya untuk melihat secara langsung bagaimana sebuah kebijakan nasional dirumuskan, didiskusikan, dan diterjemahkan menjadi langkah-langkah nyata yang berdampak bagi masyarakat.
Perjalanan tersebut kemudian berlanjut ketika saya dipercaya menjadi Ketua Tim Kerja Hukum, Pembinaan, Pengawasan, dan Pengelolaan Pengaduan pada Direktorat Mutu Pelayanan Kesehatan Rujukan. Tim kerja ini merupakan unit baru yang dibentuk sebagai bagian dari penguatan fungsi pengawasan mutu pelayanan kesehatan.
Melalui tim tersebut, saya turut mendorong penguatan pengawasan perizinan berbasis risiko melalui sistem Online Single Submission (OSS), sehingga pengawasan tidak hanya dilakukan secara administratif, tetapi juga berbasis data dan kepatuhan terhadap standar pelayanan kesehatan.
Saya percaya bahwa perizinan tidak boleh berhenti pada tahap penerbitan izin, melainkan harus menjadi instrumen untuk memastikan kualitas layanan yang diterima masyarakat tetap terjaga.
Selain itu, saya juga terlibat dalam berbagai diskusi terkait regulatory sandbox di sektor kesehatan, termasuk pada layanan telemedisin dan inovasi teknologi kesehatan lainnya. Pengalaman ini memperkuat keyakinan saya bahwa regulasi harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Hukum tidak seharusnya menjadi penghambat inovasi, melainkan seharusnya dapat menciptakan ruang aman bagi inovasi untuk berkembang tanpa mengorbankan keselamatan pasien, kualitas pelayanan, maupun perlindungan masyarakat. Tantangan terbesar dalam transformasi kesehatan saat ini bukan memilih antara inovasi atau perlindungan, melainkan bagaimana memastikan keduanya berjalan beriringan.
3) Sebagai profesional muda, bagaimana latar belakang atau perspektif unik Anda memberikan solusi yang mungkin tidak terpikirkan oleh orang lain di organisasi Anda?
Saya terbiasa bekerja dengan ritme yang cepat, kolaboratif, dan berbasis data. Namun, latar belakang saya di bidang hukum juga membentuk cara pandang yang berbeda, yaitu setiap keputusan harus dibangun di atas dasar yang kuat, dapat dipertanggungjawabkan, dan memberikan kepastian bagi masyarakat. Karena itu, saya selalu berusaha menyeimbangkan kebutuhan akan inovasi dengan prinsip kehati-hatian dalam penyusunan kebijakan.
Kombinasi kedua perspektif tersebut membantu saya melihat bahwa transformasi tidak selalu harus diwujudkan melalui sesuatu yang benar-benar baru. Sering kali, perubahan terbesar justru terjadi ketika kita mampu menyederhanakan sesuatu yang kompleks menjadi lebih mudah dipahami, lebih mudah dilaksanakan, dan lebih bermanfaat bagi masyarakat.
Karena itu, saya memiliki ketertarikan yang besar pada pendekatan visual dalam bekerja. Saya percaya bahwa informasi yang kompleks akan lebih mudah dipahami ketika disajikan secara sederhana dan menarik. Dalam berbagai proses penyusunan regulasi, saya sering menerjemahkan materi hukum dan kebijakan yang rumit ke dalam bentuk infografik, peta regulasi, dashboard pemantauan, matriks kebijakan, maupun visualisasi data lainnya.
Selain itu, saya sangat menyukai pengelolaan data dan dashboard sebagai alat untuk memantau progres pekerjaan, memetakan isu strategis, dan mendokumentasikan proses koordinasi yang melibatkan banyak pihak. Bagi saya, data bukan hanya alat pelaporan, tetapi juga alat untuk membangun kolaborasi. Melalui data yang transparan dan mudah dipahami, setiap pihak dapat memiliki pemahaman yang sama terhadap tujuan yang ingin dicapai.
4) Apa strategi Anda untuk menjaga energi kreatif saat menghadapi birokrasi?
Saya tidak melihat birokrasi sebagai hambatan bagi kreativitas. Bagi saya, birokrasi memiliki peran penting untuk memastikan setiap kebijakan dan keputusan publik berjalan secara akuntabel, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Tantangannya adalah bagaimana memastikan proses tersebut tetap mampu bergerak cepat dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat yang terus berubah
Untuk menjaga energi kreatif, saya selalu berusaha melihat setiap tantangan birokrasi sebagai peluang untuk melakukan perbaikan. Ketika menemukan proses yang panjang atau terlihat rumit, saya tidak langsung bertanya bagaimana cara melewatinya, tetapi bagaimana cara menyederhanakannya tanpa mengurangi kualitas, akuntabilitas, maupun kepastian hukum yang harus dijaga.
Saya percaya bahwa kreativitas di sektor publik bukan berarti mengabaikan aturan, melainkan menemukan cara yang lebih baik untuk mencapai tujuan yang sama. Kreativitas dalam birokrasi bukan tentang melakukan sesuatu yang berbeda demi terlihat inovatif, tetapi tentang menemukan cara yang lebih efektif untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.
5) Jika Anda dapat memilih satu hal investasi mendasar guna mempercepat transformasi sektor publik, apa yang akan Anda pilih dan apa alasannya?
Jika saya harus memilih satu investasi paling mendasar untuk mempercepat transformasi sektor publik, saya akan memilih investasi pada talenta.
Teknologi dapat dibeli. Regulasi dapat disusun. Infrastruktur dapat dibangun. Namun transformasi tidak akan pernah terjadi tanpa manusia yang memiliki integritas, kompetensi, etika, dan keberanian untuk melakukan perubahan.
Indonesia memiliki banyak anak muda yang cerdas, adaptif, dan penuh idealisme. Tantangan terbesar bukan menemukan talenta-talenta tersebut, melainkan menciptakan lingkungan yang memungkinkan mereka untuk terus belajar, berkolaborasi, berinovasi, dan memberikan kontribusi terbaiknya bagi bangsa.
Pada saat yang sama, semangat inovasi juga harus diimbangi dengan nilai-nilai etika dan tanggung jawab publik. Inovasi yang baik bukan hanya yang cepat dan efisien, tetapi juga yang tetap menjunjung integritas, akuntabilitas, dan kepentingan masyarakat. Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan arah perubahan adalah manusia yang menggunakannya.
6) Apa ambisi terbesar Anda dalam perjalanan karier di pelayanan publik?
Ambisi terbesar saya dalam perjalanan di pelayanan publik melihat semakin banyak masyarakat yang merasakan dan mengakui bahwa pelayanan kesehatan di Indonesia semakin baik.
Bagi saya, keberhasilan sebuah kebijakan tidak hanya diukur dari jumlah regulasi yang diterbitkan atau program yang dilaksanakan, tetapi dari pengalaman nyata yang dirasakan masyarakat ketika mengakses layanan kesehatan.
Saya ingin melihat semakin banyak pasien yang mendapatkan pelayanan dengan lebih cepat, lebih aman, lebih nyaman, dan lebih manusiawi. Saya ingin melihat rumah sakit yang tidak hanya memiliki fasilitas yang baik, tetapi juga mampu memberikan pengalaman pelayanan yang membuat masyarakat merasa dihargai dan dilayani dengan baik.
7) Apa “nilai universal” yang mengikat semua orang di lingkungan kerja Anda – dari magang hingga direktur – dan bagaimana Anda memanfaatkannya untuk mendorong kolaborasi?
Nilai universal yang mengikat semua orang di lingkungan kerja adalah tujuan yang sama untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Latar belakang, usia, pengalaman, maupun jabatan boleh berbeda, tetapi pada akhirnya kami bekerja untuk tujuan yang sama, yaitu meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Dalam proses penyusunan kebijakan, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar. Bahkan sering kali perbedaan tersebut justru memperkaya kualitas keputusan yang dihasilkan. Ketika diskusi menjadi kompleks atau muncul berbagai perspektif yang berbeda, saya selalu berusaha mengembalikan fokus pada pertanyaan mendasar: "Apa yang akan memberikan manfaat terbesar bagi masyarakat?"
Di sisi lain, saya juga meyakini bahwa kolaborasi yang baik harus dibangun di atas etika dan rasa saling menghormati. Sebagai aparatur sipil negara, saya belajar bahwa menyampaikan ide dan gagasan tidak hanya tentang apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana cara menyampaikannya.
Ketika setiap orang mampu menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi serta menghargai kontribusi satu sama lain, kolaborasi tidak lagi dibatasi oleh jabatan atau usia, melainkan menjadi kekuatan bersama untuk menciptakan perubahan yang nyata.
8) Apa nasihat terbaik yang pernah Anda dapatkan dan ingin Anda sampaikan untuk aparatur sipil generasi berikutnya?
Pesan yang ingin saya sampaikan kepada generasi muda ASN adalah: jangan takut memiliki ide, jangan takut belajar hal baru, dan jangan menunggu jabatan tertentu untuk mulai berkontribusi.
Inovasi tidak selalu lahir dari posisi tertinggi, melainkan dari kepedulian untuk memperbaiki sesuatu yang belum berjalan optimal. Saya percaya bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari orang-orang yang cukup peduli. Semangat untuk belajar, berinovasi, dan memberikan kontribusi akan selalu tumbuh, di mana pun posisi kita berada.
Perlu diingat bahwa jabatan dapat memberikan kewenangan, namun kepedulianlah yang melahirkan perubahan.
9) Mitos apa yang ingin Anda luruskan tentang aparatur sipil muda?
Mitos terbesar yang ingin saya luruskan adalah anggapan bahwa ASN muda hanya berperan sebagai pelaksana administratif, tidak memiliki ruang untuk berkontribusi, atau kurang memiliki semangat untuk menciptakan perubahan.
Pengalaman saya justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Saya melihat banyak anak muda di pemerintahan yang terlibat langsung dalam penyusunan kebijakan nasional, transformasi digital, reformasi regulasi, inovasi pelayanan publik, hingga penguatan tata kelola pemerintahan. Mereka tidak hanya bekerja di balik meja, tetapi turut memberikan ide, analisis, dan solusi untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan.
Tentu saja, kontribusi tersebut tidak hadir dengan sendirinya. Yang dibutuhkan bukan hanya kesempatan dan keinginan untuk berkontribusi, tetapi juga kemauan untuk terus belajar, keberanian untuk menyampaikan gagasan, serta kesiapan untuk memikul tanggung jawab ketika kepercayaan diberikan. Kesempatan sering kali datang kepada mereka yang telah mempersiapkan diri dengan baik.
Saya percaya bahwa generasi muda memiliki keunggulan dalam kemampuan beradaptasi, memanfaatkan teknologi, berpikir kolaboratif, dan melihat tantangan dari perspektif yang berbeda.
Namun di saat yang sama, kami juga harus tetap menjunjung profesionalisme, etika, dan menghormati pengalaman para senior yang telah lebih dahulu mengabdi. ASN muda bukan sekadar masa depan birokrasi. Kami adalah bagian dari perubahan yang sedang berlangsung hari ini.
10) Tulis surat untuk diri Anda di masa depan pada tahun 2035.
Hi Syifa, semoga ketika membaca surat ini, kamu masih memiliki rasa ingin tahu yang besar, semangat untuk terus belajar, dan keberanian untuk memperjuangkan hal-hal yang benar.
Ingatlah bahwa sejak awal tujuanmu bukan sekadar menyelesaikan pekerjaan. Kamu memilih jalan pelayanan publik karena percaya bahwa kebijakan yang baik dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan meningkatkan kualitas hidup banyak orang. Jangan biarkan rutinitas, tekanan, atau tantangan membuatmu melupakan alasan tersebut.
Jika hari ini perjalanan terasa berat, ingatlah bahwa tidak ada perubahan besar yang lahir secara instan. Banyak kontribusi terbaik justru berasal dari kerja keras yang tidak terlihat, keputusan-keputusan kecil yang konsisten, dan keberanian untuk tetap melangkah ketika keadaan tidak mudah.
Teruslah menjaga integritas, etika, dan semangat untuk melayani. Teruslah membuka ruang bagi generasi muda yang datang setelahmu, sebagaimana banyak orang telah memberikan kesempatan kepadamu untuk belajar dan berkembang.
Apa pun posisi dan peranmu saat ini, semoga kamu tetap rendah hati dalam keberhasilan, tangguh dalam menghadapi tantangan, dan tulus dalam bekerja untuk kepentingan masyarakat.
Terima kasih karena tidak pernah menyerah. Tetaplah bermimpi, terus belajar, dan terus memberi manfaat.
-1783304403050.jpg)