Tangerang adalah rumah bagi salah satu bandara tersibuk di dunia – Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Sekitar 63 juta orang tiba di Tangerang setiap tahun dan melewati perjalanan dari Bandara ini seterusnya ke kota-kota lain di Indonesia dan kawasan.

Walikota Arief Wismansyah mengatakan pada GovInsider bahawa tantangan terbesar Tangerang adalah kemacetan lalu lintas, penciptaan lapangan kerja dan banjir. Berikut adalah bagaimana ia berencana untuk mengatasinya.

Kota ini sedang membangunkan jalan baru untuk mengurangi kemacetan lalu lintas. Setiap hari 300.000 orang memasuki kota, hingga penuh sesak jalan tersebut. “Kota ini berencana untuk membangunkan satu lagi jalan tol. Kami sedang bekerja sama dengan pemerintah pusat” kata Wismansyah.

Tahun ini Tangerang mulai melacak lokasi kendaraan, termasuk bis dan truk, katanya. Kamera CCTV juga di gunakan untuk memantau lalu lintas.

Wismansyah bekerja dengan pemerintah pusat dan provinsi untuk meningkatkan perhubungan antara kota-kota lain. Mereka berencana untuk mengajukan kereta api dan bis baru, termasuk kereta api dari bandara ke Jakarta. “Jadi, jika orang-orang dari bandara perlu pergi ke kota-kota lain seperti Bandung, mereka tidak perlu pergi ke stasiun di Jakarta. Mereka boleh pergi ke Tangerang dan kemudian langsung ke kota mereka” katanya.

Prioritas berikutnya adalah penciptaan lapangan kerja. Tangerang sekarang menjadi rumah bagi 2.600 fasilitas manufaktur dan sedang berencana untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak di industri pelayanan. Oleh kerana lokasi kota berdekatan dengan bandara, Wismansyah percaya kota ini akan menarik perusahaan logistik dan e-commerce. “Pada masa ini kami mengundang perusahaan logistik untuk membuka kantor mereka di Tangerang, bahkan juga toko online. Kami juga mengundang mereka untuk mendirikan gudang mereka di Tangerang” katanya.

Walikota juga berencana untuk membangunkan sebuah “aerotropolis” – sebuah daerah perusahaan baru 180 kilometer persegi yang berpusat di sekitar bandara. “Jadi orang boleh datang di pagi hari dan pulang setelah mereka menyelesaikan urusan mereka. Mereka tidak perlu pergi ke Jakarta” katanya.

Prioritas ketiga untuk kota ini adalah mencegah banjir. Ternyata empat sungai yang mengalir melalui Tangerang melimpah saat hujan deras pada bulan Desember, Januari dan Februari. Pemerintah sedang membangunkan “tembok penahan” di sepanjang bahagian sungai yang mengalir melalui kota, supaya dapat mencegah banjir di daerah perumahan, kata Wismansyah.

Tantangan rancangan pencegahan banjir harus dikoordinasikan dengan kota-kota lain. Ketika sungai melimpah ke kota berdekatan, Tangerang sekali lagi banjir. “Jika saya merencanakan anggaran dan menjalankan rancangan tahun ini, mereka juga harus melakukannya pada tahun yang sama” katanya.

Sebelum memasuki pemerintah Wismansyah adalah seorang usahawan. Mendapat ilham dari Singapura, dia ingin perusahaan memiliki peranan yang lebih besar di kota. “Pemerintah Singapura hanya mengatur dan memfasilitasi. Itulah yang kami coba lakukan sekarang, supaya kita kurang keterlibatannya” katanya.

Pemerintah juga ingin warga negara untuk lebih terlibat dalam memberi cadangan dan solusi. “Kami telah menyarankan supaya mereka meletakkan semua ide-ide mereka di internet. Mereka boleh memberi informasi pada pemerintah melalui Twitter dan Facebook” katanya. Pemerintah bahkan memiliki nomor WhatsApp yang khusus untuk warga negara berhubungan.

Wismansyah berharap untuk menyelesaikan masalah terbesar Tangerang, akan tetapi dia masih memerlukan bantuan dari pemerintah pusat, tetangga kota, perusahaan dan warga negara untuk menemukan solusi.