Keterampilan digital sebagai solusi mengurangi kemiskinan perempuan 

By Dyana Jatnika

Teknologi digital kerap dipandang sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi; namun, bagi jutaan perempuan, kemiskinan dan kerentanan ekonomi masih terus berlangsung. 

Inisiatif digital yang berfokus pada keterampilan berbasis pengetahuan sangat dibutuhkan oleh perempuan untuk memperluas peluang penghidupan mereka. Foto: UN Women

Sudah lebih dari 25 tahun sejak Beijing Platform for Action mengidentifikasi kemiskinan dan ketimpangan ekonomi sebagai dua dari 12 area kritis yang memengaruhi perempuan secara global. Saat ini, kesenjangan masih tetap ada, menegaskan sifat struktural yang mengakar dari tantangan-tantangan tersebut. 

 

Kesenjangan yang terus bertahan ini memunculkan pertanyaan: dalam kondisi seperti apa partisipasi perempuan dalam transformasi digital benar-benar mendorong pengentasan kemiskinan, alih-alih justru memperkuat ketimpangan yang sudah ada? 

 

Meski berbagai studi menunjukkan bahwa mendorong kemandirian finansial perempuan merupakan komponen utama dari pemberdayaan ekonomi, proses ini bersifat kompleks dan multidimensional, serta dipengaruhi oleh faktor-faktor yang saling terkait di tingkat mikro dan makro. 

 

Riset terbaru menunjukkan bahwa teknologi digital menawarkan harapan baru. 

 

Menurut Laporan Tahunan UN Women 2018-2019, teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dipandang oleh Platform for Action sebagai sarana yang membuka peluang bagi perempuan untuk meningkatkan kualitas hidup, berkontribusi dalam berbagi pengetahuan, membangun jejaring, dan terlibat dalam berbagai aktivitas lainnya. 

Akses yang setara 

 

Studi Lechman & Marszk (2019) menekankan bahwa pengetahuan merupakan kunci utama. 

 

Perempuan harus memiliki kesempatan pendidikan yang setara agar dapat berpartisipasi penuh dalam aktivitas ekonomi. Data UN Women menunjukkan bahwa perempuan menghadapi kesenjangan keterampilan digital yang signifikan, dengan kemungkinan 25 persen lebih rendah dibandingkan laki-laki untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam memanfaatkan teknologi secara efektif. 

 

Diseminasi pengetahuan melalui teknologi digital memiliki potensi untuk menembus hambatan geografis, sosial, budaya, dan hierarkis dalam upaya pemberdayaan ekonomi. 

 

Namun demikian, intervensi yang efektif harus melampaui sekadar akses dan secara aktif mendorong kemandirian, harga diri, serta kepercayaan diri perempuan. 

 

Terkait dengan gagasan ini adalah pemahaman bahwa peluang untuk mengakses pembelajaran jauh lebih penting dibandingkan sekadar akses teknis atau fisik semata. Untuk mencapai dampak yang berkelanjutan, diperlukan pergeseran menuju pemberdayaan transformatif yang menempatkan perubahan bersama perempuan, bukan sekadar untuk perempuan. 

 

Pendekatan feminisme liberal yang dikemukakan oleh Vehvilainen dan Brunila (2007) berpendapat bahwa hal ini dapat dicapai dengan meningkatkan partisipasi perempuan dalam pendidikan dan profesi di bidang TIK. 

Pentingnya kompetensi digital 

 

Di Provinsi Jawa Barat, inisiatif unggulan Jabar Istimewa Digital Academy menetapkan perempuan sebagai salah satu kelompok penerima manfaat utamanya. 

 

Pada 2024, Jabar Digital Service (unit pelaksana di bawah Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Barat) melakukan survei terhadap perempuan di seluruh provinsi untuk memetakan kebutuhan pelatihan digital. Survei ini melibatkan 284 responden perempuan, yang sebagian besar berada pada usia produktif.

 

Hasil survei menunjukkan bahwa 89 persen responden menyatakan kebutuhan untuk mempelajari kompetensi digital. 

 
Dosen Universitas Padjadjaran, Dyana Jatnika, menyoroti pentingnya perempuan menguasai keterampilan digital. Foto: Dokumentasi pribadi

Motivasi perempuan dalam mengikuti pelatihan digital terkelompok dalam tiga pendorong utama: peningkatan keterampilan profesional, pengembangan diri dan minat personal, serta persiapan untuk karier masa depan di sektor digital. 

 

Di antara berbagai pilihan pelatihan, pemasaran digital muncul sebagai bidang yang paling banyak diminati. 

 

Menariknya, sebagian besar responden menyatakan preferensi terhadap kelas daring dibandingkan pelatihan tatap muka dalam mengikuti program pengembangan keterampilan digital. 

 

Temuan-temuan ini menegaskan bahwa inisiatif digital, khususnya yang berfokus pada keterampilan berbasis pengetahuan dan moda pembelajaran yang fleksibel, sangat dibutuhkan oleh perempuan untuk memperluas peluang penghidupan mereka. 

 

Temuan ini juga selaras dengan konteks Indonesia, di mana proporsi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dimiliki perempuan tergolong signifikan. Kendala utama yang mereka hadapi di era digital terletak pada kemampuan pemasaran digital, sebagaimana ditunjukkan dalam studi Kumra dan Kumar (2025) serta Sultan dan Sultan (2020)

 

Selain itu, UMKM memberikan kontribusi besar terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia, dengan perempuan memainkan peran krusial dalam menjaga keberlanjutan sektor ini. 

 

Namun demikian, sejauh mana perhatian yang memadai diberikan terhadap hambatan struktural yang dihadapi perempuan dalam hal akses, kepercayaan diri, dan kekuatan pengambilan keputusan, masih menjadi pertanyaan terbuka. 

 

Sebagai penutup, mengatasi hambatan-hambatan tersebut merupakan kunci untuk memungkinkan partisipasi penuh perempuan dalam aktivitas ekonomi digital, di mana mereka tidak hanya dibekali akses terhadap teknologi, tetapi juga pengetahuan, kepercayaan diri, dan daya tawar untuk memanfaatkannya secara bermakna. 

  

--------------------------------------------- 

 

Dyana Jatnika adalah dosen di Universitas Padjadjaran, Indonesia. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Tribe Lead bidang Citizen Engagement and Services di Jabar Digital Service, unit di bawah Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Barat.