Membangun kota yang peduli terhadap warganya
By Sol Gonzalez
Dari simpul transportasi sebagai ruang komunitas hingga mengajak warga untuk memecahkan tantangan perkotaan, para pembicara dari Singapura, Malaysia, Uzbekistan, dan Indonesia berbagi strategi untuk membangun ekosistem kolaboratif yang memprioritaskan inklusi di kota serta mendorong inovasi.

Para pembicara menekankan bahwa desain kota yang berpusat pada manusia membutuhkan perubahan perspektif: dari yang memudahkan perencana menjadi yang benar-benar melayani masyarakat. Foto: GovInsider.
Pendekatan yang berpusat pada manusia menjadi tema utama dalam ajang Festival of Innovation (FOI) 2026 tahun ini.
Para pemimpin sektor publik berbagi tentang pentingnya merancang kebijakan yang menjawab kebutuhan nyata, mengembangkan solusi teknologi yang benar-benar mudah diakses, serta menciptakan lingkungan kerja yang aman secara psikologis.
Gagasan ini juga menjadi inti dalam diskusi tentang perancangan kota dan layanan perkotaan yang menunjukkan kepedulian terhadap warga, dalam sesi panel bertajuk "Designing Human-Centric Cities and Services".
Para pembicara dari empat negara dan berbagai sektor membahas strategi, solusi, dan ide yang dapat membantu menciptakan ruang perkotaan yang layak huni dan inklusif, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi, keberlanjutan, dan keadilan sosial.
Mereka menekankan bahwa desain kota yang berpusat pada manusia membutuhkan perubahan perspektif, dari yang sekadar memudahkan perencana menjadi yang benar-benar melayani masyarakat sebagai pengguna layanan.
Untuk mewujudkan visi ini, diperlukan proses co-design bersama komuter, warga, dan komunitas, alih-alih menerapkan solusi dari atas ke bawah berdasarkan kenyamanan semata.
Berikut empat poin utama dari sesi ini tentang bagaimana merancang kota yang peduli terhadap warganya.
1. Menempatkan diri pada posisi pengguna
Dalam konteks layanan perkotaan, pendekatan berpusat pada manusia berarti menempatkan diri pada posisi pengguna, ujar Vice President dan Head of Customer Experience and Commercial SBS Transit Singapura, Shaun Liew.
Ia menjelaskan bahwa sistem transportasi progresif kini berkembang dari sekadar fokus pada perjalanan menjadi merancang pengalaman perjalanan yang utuh dari awal hingga akhir.
Hal ini mencakup integrasi solusi first-mile dan last-mile, bermitra dengan penyedia mobilitas bersama, serta mempertimbangkan seluruh pengalaman pengguna – mulai dari perencanaan perjalanan di rumah hingga tiba di tujuan akhir.
“Ini bukan sekadar memindahkan orang. Ini tentang mendukung komuter dari titik awal hingga akhir, termasuk merencanakan moda transportasi, perpindahan fisik dari bus dan kereta ke sepeda atau shared vehicle.”
Liew juga membagikan kemitraan SBS Transit dengan operator aplikasi sepeda Anywheel, di mana layanan sepeda telah terintegrasi dalam aplikasi mobile SBS, yang menampilkan jumlah sepeda tersedia di halte tertentu sehingga memudahkan perjalanan yang mulus dari perencanaan hingga tujuan.
Ia menambahkan bahwa ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan agar pengguna dapat dengan mudah dan nyaman menggunakan berbagai moda transportasi publik serta mendapatkan pengalaman yang menyenangkan secara keseluruhan.
2. Mendorong keterlibatan komunitas yang bermakna
Di Asia Tengah, Uzbekistan memanfaatkan populasi mudanya (lebih dari 70 persen berusia di bawah 30 tahun) dengan menyelenggarakan hackathon yang mengajak warga untuk memecahkan tantangan perkotaan.
Nariman Akhatov, Project Management Specialist dari Delivery Unit Agency for Strategic Reforms Uzbekistan, menyampaikan bahwa pendekatan ini menghasilkan 25 solusi desain dari ribuan peserta hanya dalam 20 hari.
Menghimpun inovasi dari mereka yang akan hidup di kota masa depan membantu menciptakan solusi yang lebih relevan dan berkelanjutan.
“Kami mencoba mendapatkan solusi dari Generasi Z dan anak muda yang tertarik menyelesaikan masalah, karena masa depan adalah milik mereka dan mereka yang akan hidup di negara masa depan,” ujarnya.
Beberapa solusi hasil hackathon kini sedang dalam tahap prototipe, dan pengalaman ini mendorong lebih banyak anak muda untuk berkolaborasi dengan pemerintah dalam menyelesaikan berbagai tantangan kota.
Liew juga menambahkan bahwa ruang kota yang sudah ada, seperti pusat transportasi, dapat diimajinasikan ulang untuk mendorong keterlibatan komunitas.
Ia mencontohkan Stasiun Tampines yang mengubah area seluas 15.000 kaki persegi menjadi “wellness village” dengan menggabungkan gaya hidup, ritel, dan ruang rekreasi publik.
“Lokasinya berada di simpul transportasi. Ada terminal bus, MRT, dan plaza komunal yang kami bangun untuk melayani masyarakat… dan kami memposisikannya sebagai studio tari publik.”
Bekerja sama dengan Singapore Country Line Dance Association, simpul transportasi ini kini menjadi destinasi kegiatan komunitas seperti sesi tari yang diadakan setiap minggu ketiga setiap bulan.
3. Menyeimbangkan berbagai hasil yang bersaing
“Kelayakhunian bukan soal memilih satu hasil, tetapi menyeimbangkan semuanya,” ujar Elaine Tan, Director of Research Centre for Liveable Cities.
Ia menekankan bahwa kualitas hidup yang tinggi, kondisi ekonomi yang kompetitif, dan lingkungan yang berkelanjutan membutuhkan perencanaan terpadu, tata kelola kota yang dinamis, serta ekosistem kolaboratif.
Menyeimbangkan berbagai hasil ini sangat penting bagi kota seperti Singapura yang menghadapi tantangan kompleks lintas sektor, seperti populasi yang cepat menua.
“Pendekatan yang kita rancang harus bersifat interdisipliner, dan karena itu kita perlu riset bersama serta pengembangan kebijakan bersama. Melalui riset dan keterlibatan komunitas, kita bisa menghasilkan solusi inovatif.”
Ia juga berbagi tentang perancangan lingkungan ramah demensia yang dilakukan bersama Agency for Integrated Care dan Singapore University of Technology and Design.
Tim tersebut melibatkan penyandang demensia, pengasuh, dan komunitas untuk meningkatkan kesadaran, memperbaiki desain, meningkatkan infrastruktur, serta mengumpulkan wawasan untuk implementasi yang efektif.
Untuk kelompok dengan keterbatasan kognitif yang sulit menyampaikan kebutuhan, metode riset inovatif seperti observasi langsung, visual grafis, dan puzzle digunakan untuk menggali wawasan berharga.
Temuan dari proyek ini kemudian digunakan untuk meningkatkan standar aksesibilitas bangunan di Singapura, seperti kewajiban menyediakan area istirahat, peningkatan kontras visual pada rambu, dan sistem penunjuk arah yang lebih baik.
4. Memahami kebutuhan yang berbeda
“Saya ingin melihat kota dirancang berdasarkan kebutuhannya,” ujar Juan Kanggrawan, Asia Pacific Regional Digital and AI Expert dari UNDP.
Ia menekankan pentingnya memahami kebutuhan lokal sebelum menerapkan solusi teknologi, dengan sikap rendah hati dan pendekatan iteratif sebagai kunci.
“Kerendahan hati untuk mengakui bahwa masa depan tidak dapat diprediksi, dan iterasi untuk terus meninjau, menyesuaikan, dan menyempurnakan fitur terbaik yang sesuai dengan ekosistem kota.”
Agar solusi digital perkotaan benar-benar berdampak, solusi tersebut harus relevan dengan komunitas lokal dan disesuaikan dengan konteks masing-masing kota.
Sebagai moderator, Chief Executive Urbanice Malaysia, Norliza Hashim, menegaskan bahwa ketika kota benar-benar berkomitmen pada desain berpusat pada manusia, mereka akan menciptakan lingkungan yang menunjukkan kepedulian terhadap warganya.
“Dan ketika ada kepedulian, dampak besar akan terjadi. Kota akan menjadi lebih aman, lebih bahagia, dan tentu saja lebih layak huni,” pungkasnya.
