Platform Ruang Murid dorong pembelajaran yang berkualitas dan inklusif

By Mochamad Azhar

Ruang Murid dirancang untuk menghadirkan akses pembelajaran yang lebih inklusif untuk menciptakan pengalaman belajar yang semakin personal dan bermanfaat bagi peserta didik.

Platform Ruang Murid hadir sebagai upaya pemerintah mendorong pembelajaran yang berkualitas, mudah diakses, dan menyenangkan bagi para peserta didik. Foto: INA Digital Edu 

Sebagai negara dengan ekosistem pendidikan terbesar keempat di dunia, mencakup lebih dari 50 juta murid dan 4 juta guru, Indonesia masih mengalami kesenjangan dalam mengakses materi pendidikan yang berkualitas.  

 

Karakteristik geografis dan sosioekonomi yang beragam menjadikan kesenjangan semakin kompleks, mengakibatkan banyak peserta didik yang menghadapi hambatan konektivitas, perangkat, hingga biaya.

 

Ruang Murid, platform pembelajaran daring bagian dari superaplikasi Rumah Pendidikan, dirancang untuk menjawab persoalan tersebut dengan pendekatan yang berangkat dari realitas di lapangan.   

 

“Ruang Murid dikembangkan untuk memperluas akses terhadap pendidikan berkualitas melalui penyediaan berbagai tipe materi pembelajaran yang dapat digunakan secara gratis, lintas perangkat, dan tetap dapat dijangkau dalam kondisi konektivitas yang terbatas,” ungkap Deputy Head of Tribe – Murid, INA Digital Edu, Tubagus Septian. 

 

INA Digital Edu adalah tim pengembang teknologi yang bekerja dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, bagian dari INA Digital yang berada di bawah naungan Peruri. 

 

Platform ini sudah tersedia bagi murid dari seluruh jenjang pendidikan, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), SD, SMP, hingga SMA/SMK. Ruang Murid dapat diakses melalui superaplikasi Rumah Pendidikan dari berbagai gawai seperti ponsel pintar, tablet, komputer, atau laptop sekolah maupun individual.

 

Menurut Septian, upaya untuk meningkatkan akses pembelajaran diwujudkan melalui web tanpa instalasi, serta pengembangan fitur penyimpanan dokumen secara offline yang memungkinkan materi tetap diakses tanpa jaringan internet.  

 

Dari sisi konten, Ruang Murid menyediakan sumber belajar berkualitas yang selaras dengan kurikulum nasional, latihan soal berbagai mata pelajaran, buku teks, hingga pembelajaran jarak jauh. 

 

Dalam waktu kurang dari satu tahun sejak diluncurkan pada bulan Mei 2025, platform ini telah menghadirkan lebih dari 3.500 materi ajar dan mencatat lebih dari 25 juta kunjungan. 

 

Septian berbagi kepada GovInsider tentang bagaimana membangun platform pendidikan yang tidak hanya bermanfaat, tetapi juga relevan dengan kebutuhan penggunanya

Desain yang berorientasi pada murid 

 

Dalam banyak inisiatif digital pemerintah, adopsi sering menjadi titik lemah disebabkan pendekatan yang lebih berorientasi pada pembuat aplikasi ketimbang pengguna. Banyak platform dikembangkan, tetapi pada akhirnya tidak digunakan secara optimal. 

 

Ruang Murid didesain untuk memastikan bahwa berbagai fitur dan konten pembelajaran berorientasi pada kebutuhan murid. Pengembangannya dilakukan dengan melibatkan pengguna sejak awal. 

 
Tubagus Septian berbagi tentang pentingnya pembelajaran yang berkualitas, namun tetap mudah diakses oleh semua. Foto: INA Digital Edu

“Adanya keterlibatan pengguna pada proses pengembangan membantu kami menyiapkan layanan yang sederhana, tampilan dan instruksi yang bersahabat dengan intuisi dan kebutuhan mereka, sekaligus mudah untuk digunakan,” kata Septian 

 

Melalui uji keterbacaan (readability) dan ketergunaan (usability), tim memastikan bahwa materi dan tampilan yang disajikan benar-benar mudah dipahami oleh murid dari berbagai jenjang pendidikan.

 

Pendekatan ini berlanjut setelah peluncuran. Alih-alih hanya mengandalkan sosialisasi yang bersifat top-down, tim pengembang dan kementerian mendorong pemanfaatan dengan melibatkan komunitas guru dan murid. 

 

“Semakin banyak contoh dan inspirasi pemanfaatan yang muncul secara organik dari antar-pengguna, semakin luas jangkauan eksposur manfaat yang nyata kepada pengguna yang lain,” ia menambahkan. 

 

Integrasi Ruang Murid ini dengan Papan Interaktif Digital (PID) turut memperkuat adopsi. Melalui perangkat layar pintar berukuran besar yang dihibahkan kementerian kepada sekolah, pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan menampilkan materi-materi seperti laboratorium virtual hingga gim edukasi. 

 

Perubahan ini mendorong keterlibatan aktif murid dalam proses belajar, sekaligus membuka ruang bagi metode pengajaran yang lebih partisipatif dan menyenangkan. 

Memanfaatkan AI untuk pembelajaran personal 

 

Setelah adopsi, fase berikutnya adalah bagaimana menjadikan platform ini relevan dan terpersonalisasi, memastikan setiap murid mendapatkan materi yang sesuai dengan kebutuhan dan progres belajarnya secara berkelanjutan.

 
Penggunaan AI dimanfaatkan untuk menyediakan materi yang sesuai dengan kebutuhan belajar murid. Foto: INA Digital Edu

Di sinilah teknologi kecerdasan artifisial (AI) mulai dimanfaatkan.  

 

Ruang Murid menggunakan Natural Language Processing (NLP) dan Large Language Models (LLM) untuk memahami konteks materi pembelajaran secara mendalam.

 

“Ini memungkinkan sistem untuk menyelaraskan ribuan konten dari berbagai sumber secara otomatis dengan standar kurikulum nasional terbaru,” kata Septian. 

 

Tim juga menggunakan mekanisme klasifikasi hybrid classification pipelines, yang memungkinkan AI mengkategorikan setiap konten secara sistematis dan akurat. Hasilnya adalah rekomendasi konten yang lebih presisi dan terstruktur, membantu murid menemukan materi yang benar-benar relevan. 

 

Meski demikian, penggunaan AI ini tidak serta merta terlepas dari sentuhan manusia. Ketika terdapat keraguan dalam klasifikasi, konten tersebut akan diverifikasi ulang oleh para ahlinya.  

“Segitiga emas” pendidikan 

 

Sebagai bagian dari superaplikasi Rumah Pendidikan, platform Ruang Murid melibatkan tiga pihak yang saling terkait dalam komunitas pendidikan: murid, guru dan orang tua, yang dikenal sebagai “segitiga emas” pendidikan.

 

Dengan memberikan akses kepada guru dan orang tua, pelibatan ini bertujuan agar murid, guru, dan orang tua dapat mengakses sumber yang sama, menciptakan pengalaman belajar yang lebih selaras dan kolaboratif.

 

Di dalam superaplikasi Rumah Pendidikan, guru diberikan akses ke platform Ruang Guru dan Tenaga Kependidikan/GTK (sebelumnya bernama Platform Merdeka Mengajar) sebagai tempat mereka berbagi inspirasi metode pembelajaran dan cara mengajar.

 

Sementara orang tua difasilitasi dalam platform Ruang Orang Tua, yang memberikan akses kepada mereka memantau capaian pendidikan anak-anaknya dan mendukung pembelajaran di rumah.

 

“Ke depan, pengembangan akan difokuskan pada peningkatan kualitas pengalaman belajar, mulai dari penambahan konten interaktif, implementasi Learning Management System (LMS), hingga penguatan rekomendasi berbasis data,” tutup Septian. 

 

Baca juga: Menjaga mesin GovTech tetap hidup di sektor pendidikan