RSCM di garis depan transformasi layanan kesehatan

Rumah sakit umum pemerintah terbesar di Indonesia memanfaatkan AI, robotika, dan layanan kesehatan terintegrasi untuk meningkatkan efisiensi sekaligus memperluas akses layanan kesehatan.

Rumah sakit publik terbesar dan tertua di Indonesia secara aktif memanfaatkan data dan teknologi untuk mengoptimalkan operasional. Foto: RSCM

Apa yang dibutuhkan untuk menjalankan salah satu rumah sakit tersibuk di Indonesia dengan presisi tinggi?  


Bagi Rumah Sakit Umum Pusat Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM), rumah sakit publik terbesar di Indonesia, jawabannya terletak pada inovasi, data, dan teknologi. 


Saat ini, rumah sakit tersebut memanfaatkan kecerdasan artifisial (AI), robotika, dan layanan kesehatan terintegrasi untuk meningkatkan efisiensi operasional, sekaligus memperluas akses layanan kesehatan melampaui batas fisik rumah sakit. 


Bagi Direktur Utama RSCM, Dr Supriyanto Dharmoredjo, teknologi merupakan hal yang tidak terpisahkan dalam menjalankan berbagai misi rumah sakit. 


“Tujuan saya adalah agar rumah sakit kami mengadopsi teknologi yang memungkinkan kami beroperasi lebih efektif, serta memberikan hasil dan pengalaman yang lebih baik bagi pasien,” ujarnya. 


RSCM menjadi salah satu fasilitas kesehatan pertama di Indonesia yang memelopori penggunaan rekam medis elektronik.  


Seiring waktu, rumah sakit ini memperluas ekosistem digitalnya hingga mencakup Hospital Information System, Lab Information System, dan aplikasi pasien RSCMKu, yang dikelola oleh tim teknologi beranggotakan 70 orang. 


Setiap hari, RSCM menangani sekitar 5.000 kunjungan rawat jalan dan rata-rata 1.023 pasien rawat inap, yang berarti tingkat okupansi lebih dari 80 persen dari total 1.250 tempat tidur yang dimiliki rumah sakit tersebut.  


Rumah sakit ini dikenal luas sebagai pusat rujukan nasional untuk kasus-kasus kompleks yang membutuhkan keahlian subspesialis.  


RSCM juga merupakan rumah sakit pendidikan utama yang berafiliasi dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan memainkan peran penting dalam mendorong inovasi serta riset medis. 

Memanfaatkan AI dan robotika 


AI kini telah diterapkan dalam aktivitas klinis maupun operasional. 


Contohnya mencakup alat AI terintegrasi yang dapat menyarankan kemungkinan diagnosis berdasarkan gejala pasien, serta sistem lain yang meninjau hasil laboratorium dan menandai kelainan.  


AI juga kini mengotomatisasi pengajuan klaim ke BPJS Kesehatan, skema jaminan kesehatan nasional, sehingga secara signifikan mengurangi beban administrasi. 


Selain AI, rumah sakit ini juga mulai mengadopsi robotika. Sistem operasi robotik kini tersedia di beberapa spesialisasi tertentu seperti ortopedi dan urologi.  


Tidak hanya di ruang operasi, robot juga berpotensi segera digunakan di koridor rumah sakit untuk mengantarkan obat-obatan dari apotek ke bangsal. 

Mengatasi tantangan transformasi digital 


Menerapkan teknologi di rumah sakit sebesar dan sekompleks RSCM menghadirkan tantangan tersendiri, kata Dr Supriyanto.


Direktur Utama RSCM, Dr Supriyanto Dharmoredjo, mengatakan bahwa teknologi merupakan elemen yang tak tergantikan dalam menjalankan berbagai misi rumah sakit. Foto: RSCM

Salah satunya adalah melibatkan sekitar 600 dokter rumah sakit tersebut—terdiri dari sekitar 500 dokter spesialis dan 100 dokter umum—yang membutuhkan sumber daya besar.  


Pimpinan rumah sakit mengadakan sesi diskusi terpisah dengan setiap kelompok spesialisasi untuk memperkenalkan alat baru, menjawab kekhawatiran, dan membangun kepercayaan terhadap adopsi teknologi. 


Terdapat pula kesenjangan kemampuan literasi digital di kalangan staf. Pelatihan dan lokakarya rutin dibutuhkan untuk membekali staf dengan keterampilan dan pengetahuan terkait teknologi yang berkembang sangat cepat. 


Kompleksitas regulasi juga menjadi hambatan umum dalam inovasi layanan kesehatan. 


Namun, Kementerian Kesehatan Indonesia menunjukkan dukungan kuat terhadap pengembangan dan pengujian teknologi menjanjikan, termasuk melalui peluncuran regulatory sandbox untuk mempercepat pengujian dan pengembangan ide-ide baru.


Inisiatif terbaru mencakup Healthcare AI Hackathon, di mana para klinisi RSCM berperan sebagai juri dan mentor. Pada Maret 2026, kementerian juga merilis toolkit inovasi kesehatan digital yang memberikan panduan praktis untuk merancang inisiatif kesehatan digital yang selaras dengan kebutuhan tata kelola, nilai, dan keamanan. 

Membangun “hospital without walls” 


Visi jangka panjang Dr Supriyanto adalah membangun “hospital without walls” — sebuah konsep di mana layanan kesehatan melampaui batas fisik rumah sakit menuju komunitas, serta tidak berhenti hanya saat pasien berada di rumah sakit, tetapi juga mencakup layanan pra-masuk dan pasca-pulang.


Ia pertama kali memperkenalkan konsep ini di RSUD Dr Iskak Tulungagung, Jawa Timur, pada 2014, dengan membangun Public Safety Center (PSC) 119 sebagai pusat koordinasi klinis terintegrasi.  


Platform tersebut menghubungkan rumah sakit, puskesmas, ambulans, pemadam kebakaran, polisi, Palang Merah Indonesia, hingga relawan untuk mendukung triase cepat dan penanganan medis. 


Dalam kondisi darurat, pasien dapat mengaktifkan tombol darurat PSC Tulungagung yang telah terpasang di telepon genggam mereka. Operator akan segera menghubungi kembali untuk menentukan bantuan yang dibutuhkan dan melacak lokasi pasien menggunakan GPS jika diperlukan.  


Untuk kasus kritis yang berada jauh dari rumah sakit, PSC 119 membantu menghubungi fasilitas layanan kesehatan terdekat, baik klinik maupun puskesmas, agar bantuan dapat diberikan tepat waktu. 


Model ini meraih penghargaan Gold pada kategori Corporate Social Responsibility di International Hospital Federation Congress 2019. 


“Dengan model ini, kami memulai pra-triase sebelum pasien mencapai rumah sakit — sehingga kasus kritis dapat segera memperoleh perhatian medis secepat mungkin, sementara kasus stabil dapat ditangani melalui telemedicine dari rumah. Ini meningkatkan akses, efisiensi, dan kualitas layanan,” kata Dr Supriyanto.


Kini ia tengah mereplikasi konsep tersebut di RSCM, dimulai dengan sekitar 50 pasien stabil secara klinis yang menerima layanan dari rumah.  


“Sebagai rumah sakit publik tersier terkemuka di Indonesia, RSCM menghadapi peningkatan volume pasien. Kami membutuhkan ide dan teknologi inovatif untuk memastikan kami tetap dapat melayani pasien secara efektif.” 


Artikel ini sebelumnya sudah dipublikasikan dalam Bahasa Inggris oleh Hospital Management Asia di sini


---------------------------------------- 


Cindy Peh adalah Content and Community Manager di Hospital Management Asia, yang menampilkan tren dan praktik terbaik dalam manajemen layanan kesehatan melalui acara tatap muka dan digital, serta publikasi daring.