Tiga fokus Indonesia dalam memperkuat infrastruktur digital
Indonesia akan meningkatkan kapasitas pusat data, memperluas konektivitas, serta memperkuat ketahanan jaringan agar infrastruktur mampu mengikuti kebutuhan digital yang terus berkembang, kata Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Komdigi Denny Setiawan.

Indonesia ingin konektivitas digital diperluas ke berbagai wilayah, hingga dapat dinikmati oleh seluruh warga negara. Foto: Canva
Pertumbuhan ekonomi digital dan adopsi kecerdasan buatan (AI) membuka peluang baru bagi Indonesia, mulai dari transaksi digital hingga layanan publik yang lebih cerdas.
Namun, peluang ini bergantung pada kesiapan infrastruktur digital untuk menopang peningkatan kebutuhan komputasi, penyimpanan, dan pertukaran data.
Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Denny Setiawan, mengatakan pemerintah memperkuat kapasitas berbagai jenis infrastruktur secara terpadu untuk mengikuti perkembangan teknologi.
“Berbicara infrastruktur digital saat ini tidak hanya lewat satelit atau seluler saja. Dengan adopsi AI yang kencang, maka kita harus memperkuat semua infrastruktur,” ujar Denny.
Fokus pemerintah yang pertama adalah meningkatkan kapasitas komputasi dan pusat data melalui investasi. Pembangunan fasilitas ini tidak hanya membutuhkan lahan, tetapi juga pasokan listrik dan air, konektivitas, akses transportasi, serta tenaga kerja yang memadai.
Ia menyebut Batam, Jakarta, dan Karawang, Jawa Barat, menjadi sejumlah lokasi yang menjanjikan untuk pengembangan pusat data. Sementara itu, Jawa Tengah, Jawa Timur, Makassar, Bali, dan Ibu Kota Nusantara (IKN) mulai dilirik sebagai wilayah potensial.
Untuk menarik investasi, pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha perlu berkoordinasi dalam menyiapkan jaringan fiber, kabel bawah laut, pasokan listrik, lahan, dan perizinan.
“Kalau kita bicara investasi, harus terarah, transparan, dan seamless. Pemerintah harus memberikan kepastian dari awal supaya investor bisa masuk,” katanya.
Pembangunan pusat data juga tidak harus selalu berskala besar. Pemerintah dapat mempertimbangkan fasilitas sesuai dengan kebutuhan komputasi dan karakteristik setiap wilayah.
“Tidak semua harus hyperscale. Kita bisa menggunakan edge computing atau mini data center untuk melayani kebutuhan di wilayah tertentu,” ujar Denny.
Ia menambahkan bahwa kapasitas operasional pusat data di Indonesia telah tumbuh menjadi sekitar 580 MW, dengan para investor mempertimbangkan proyek ekspansi tambahan sebesar 1,3 GW, menurut angka yang diumumkan pemerintah pada Juli 2026.
Memperluas kapasitas hingga ke daerah
Fokus berikutnya ialah memperluas konektivitas ke berbagai wilayah dan memastikan bahwa infrastruktur digital dapat dinikmati oleh seluruh warga negara.
Menurut Denny, peningkatan kapasitas jaringan menjadi prioritas. Kecepatan jaringan seluler tidak hanya bergantung pada teknologi 4G atau 5G, tetapi juga pada infrastruktur yang mengangkut lalu lintas data di belakangnya.
“Kalau sudah era AI, kita tidak bisa hanya mengandalkan 4G atau 5G. Backbone dan backhaul-nya harus menggunakan fiber agar 5G tidak terasa seperti 2G,” katanya.
Jaringan fiber menyediakan kapasitas besar untuk membawa data, sedangkan satelit dapat menjangkau wilayah yang sulit dilayani jaringan terestrial. Kombinasi teknologi ini disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi geografis setiap wilayah di Indonesia.
Meski demikian, kesiapan infrastruktur digital masih berbeda antara pusat ekonomi dan wilayah lainnya. Kota-kota besar memiliki ekosistem digital yang relatif berkembang, sedangkan kota lapis kedua dan ketiga serta sejumlah wilayah di luar Jawa masih menghadapi keterbatasan jaringan fiber.
Cakupan sinyal pun tidak selalu mencerminkan kapasitas jaringan yang memadai. Suatu wilayah mungkin sudah memiliki akses internet, tetapi konektivitas yang tersedia belum tentu mampu memenuhi peningkatan kebutuhan data.
Menurut Denny, pemerintah menargetkan sekitar 90 persen kecamatan dapat terjangkau, sementara cakupannya saat ini masih sekitar 79 persen. Wilayah yang belum terjangkau cenderung lebih sulit dibangun karena kendala geografis dan ekonomi.
“Kalau yang 20 persen ini memang tantangannya lebih berat. Kebanyakan berada di lokasi yang sulit dijangkau dan memerlukan intervensi lebih jauh,” kata Denny.
Memperkuat konektivitas internasional
Pada saat yang sama, integrasi ekonomi digital ASEAN menuntut Indonesia memiliki konektivitas internasional yang lebih kuat.
Denny mengatakan sebagian besar lalu lintas digital Indonesia masih melewati Singapura. Meski sudah memiliki koneksi langsung dengan negara tetangga, kapasitasnya dinilai belum signifikan.
“Sekitar 90 persen traffic digital kita masih melewati Singapura. Koneksi langsung ke Malaysia sudah ada, tetapi belum signifikan,” ujar Denny.
Kabel bawah laut menjadi salah satu opsi untuk memperluas jalur koneksi langsung dengan negara-negara ASEAN. Konektivitas yang lebih beragam dapat membantu Indonesia mengurangi ketergantungan pada rute tertentu sekaligus mendukung pertukaran data lintas negara.
Memastikan jaringan tetap tangguh
Berikutnya adalah memastikan jaringan tetap tangguh dan tersedia. Kerusakan teknis, bencana, pemutusan kabel, maupun serangan siber dapat mengganggu layanan dan aktivitas ekonomi.
Menurut Denny, Komdigi telah membahas perlindungan infrastruktur informasi vital (CII) bersama Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) serta Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan.
Upaya tersebut mencakup perlindungan terhadap sistem digital dan infrastruktur fisik.
Selain pengamanan, operator perlu memiliki prosedur untuk merespons insiden dan memulihkan layanan.
Ketahanan infrastruktur tidak hanya ditentukan oleh kemampuannya mencegah gangguan, tetapi juga oleh kecepatan pemulihan ketika gangguan terjadi.
“SOP-nya harus jelas agar mempercepat pemulihan. Apa yang harus dilakukan ketika terjadi serangan atau bencana,” ujar Denny.
Salah satu pendekatan yang bisa diambil, menurut dia, adalah menyediakan jalur konektivitas alternatif sehingga koneksi tidak sepenuhnya bergantung pada satu rute.
“Jadi kita harus punya redundancy. Kalau satu jalur putus, traffic bisa dialihkan ke jalur yang lain,” ujar Denny.
Meski demikian, ia menekankan bahwa keberhasilan pembangunan infrastruktur tidak cukup diukur dari bertambahnya jaringan atau kapasitas pusat data.
Infrastruktur juga harus mampu menjangkau lebih banyak wilayah, memastikan tidak ada yang tertinggal, dan berdampak pada penciptaan nilai ekonomi bagi masyarakat.
