TNI AU perkuat kesiapan personel menghadapi ancaman perang siber
TNI AU membangun kesiapan melalui latihan cyber warfare, penguatan kompetensi personel, pengamanan sejak awal, serta pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), kata Kasubdisinfonet Dispenau Kolonel Lek. Ahmad Irvan.

TNI AU meningkatkan kapabilitas cyber warfare melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) serta berbagai pelatihan dan sertifikasi lintas satuan. Foto: TNI AU
Ketika sistem pertahanan semakin terhubung, medan yang harus dijaga TNI Angkatan Udara (TNI AU) tidak lagi hanya berada di udara.
Jaringan yang menghubungkan sistem komunikasi, navigasi, pusat komando dan berbagai perangkat pertahanan kini tidak hanya digunakan untuk mendukung operasi, tetapi juga dapat menjadi sasaran serangan.
“Apabila dulu kita bicara network-centric warfare di mana semua kekuatan digabungkan dalam satu jaringan, sekarang jaringannya bahkan bisa menjadi titik sasaran serangan lawan,” ujar Kepala Sub Dinas Informasi dan Internet Dinas Penerangan TNI AU (Kasubdisinfonet Dispenau), Kolonel Lek. Ahmad Irvan.
Serangan siber dapat menyasar sistem komunikasi dan navigasi hingga infrastruktur vital. Karena itu, TNI AU menempatkan kemampuan siber sebagai bagian dari pertahanan lintas matra, termasuk darat, laut dan udara, bukan sekadar upaya mengamankan jaringan, tambahnya.
Tantangannya adalah sistem yang dianggap memadai saat ini belum tentu mampu menghadapi bentuk serangan yang muncul dalam beberapa tahun ke depan. Pembaruan teknologi juga membutuhkan waktu dan anggaran.
“Tidak ada teknologi yang akan selalu kuat, jadi kita harus terus memperbaruinya,” tambahnya.
Latihan menguji respons ketika serangan terjadi
TNI AU memasukkan peningkatan kapabilitas siber dalam doktrin Swa Bhuwana Paksa atau Sayap Tanah Air. Kemampuan tersebut diperlukan agar organisasi dan personelnya dapat menyesuaikan diri dengan karakter ancaman yang terus berubah, kata Kolonel Irvan.
Salah satu cara mengukur kesiapan personel adalah melalui latihan cyber warfare. Latihan dilakukan secara internal dan dimasukkan ke dalam program latihan besar seperti Angkasa Yudha. TNI AU juga mengikuti latihan multinasional seperti Cobra Gold dan Garuda Shield.
Dalam skenario latihan, Red Team berperan sebagai pihak yang menyerang, sedangkan Blue Team bertugas mempertahankan sistem melalui deteksi, analisis, mitigasi dan pemulihan.
Pengujian tidak hanya melihat apakah personel mampu menjalankan prosedur teknis. TNI AU juga mengamati bagaimana mereka mengambil keputusan ketika menghadapi tekanan, seberapa cepat sistem dapat dipulihkan dan bagaimana komunikasi berlangsung selama insiden.
Respons dalam situasi nyata menjadi perhatian karena kemampuan yang terlihat dalam kondisi normal belum tentu muncul ketika serangan benar-benar disimulasikan.
“Secara teori, dia mampu, tapi begitu ada serangan dia panik. Kesiapan mereka menghadapi serangan itulah yang kita lihat,” katanya.
Hasil latihan digunakan untuk mengidentifikasi kesenjangan dan memperbaiki skenario berikutnya. Jika pemulihan jaringan terlalu lambat atau suatu prosedur tidak cukup fleksibel, temuan tersebut menjadi bahan evaluasi sebelum kembali diuji dengan skenario yang berbeda.
Memperkuat talenta siber personel
Untuk meningkatkan jumlah personel dengan kompeten, TNI AU melakukan rekrutmen khusus bidang teknologi informasi serta mengarahkan sebagian personel jalur reguler untuk memperoleh kompetensi siber, kata Kolonel Irvan.
Pengembangan dilakukan melalui pendidikan, pelatihan, kursus dan sertifikasi. Pendidikan formal juga tersedia hingga jenjang magister di bidang siber.
Ia mencontohkan TNI AU memiliki pusat pendidikan dan pelatihan khusus Skadik 506 di Bogor, Jawa Barat, untuk melatih personel dalam memahami keamanan siber.
"Kompetensi tersebut tidak hanya dibutuhkan oleh satuan yang secara khusus menangani siber, tetapi juga oleh organisasi lain yang mengoperasikan sistem berbasis jaringan," tambahnya.
Kerja sama internasional menjadi salah satu sarana untuk memperluas kemampuan tersebut. Latihan bersama digunakan untuk bertukar pengetahuan, meningkatkan kapasitas personel, mengembangkan riset dan memperkuat interoperabilitas.
Keamanan perlu dibangun sejak sistem dirancang
Ketika pengadaan alat peralatan pertahanan dan keamanan (alpalhanham) semakin bergantung pada jaringan, keamanan siber perlu diperhitungkan sejak tahap pengadaan dan integrasi.
“Dalam alpalhankam yang baru ini, kita memang berharap adanya security by design. Jadi security yang disiapkan dari awal,” ungkap Kolonel Irvan.
Pendekatan ini diterapkan ketika sistem baru diintegrasikan maupun ketika sistem lama, seperti radar dan pesawat, perlu terhubung dengan sistem lainnya.
Namun, security by design bukan berarti risiko berhenti setelah sistem digunakan. Perubahan teknologi dan metode serangan membuat pengamanan perlu terus disesuaikan sepanjang siklus penggunaan sistem, tambahnya.
AI dan ancaman masa depan
Ketika berbicara mengenai AI, Kolonel Irvan menyebutnya ibarat "dua sisi mata pisau, di mana ia mampu membantu mempercepat pengambilan keputusan sekaligus bisa menjadi alat serang yang lebih efektif."
Karena itu, TNI AU melihat peluang pemanfaatan AI untuk early warning dan threat intelligence, sehingga informasi mengenai ancaman dapat diproses lebih cepat.
Agar manfaat tersebut tidak menjadi celah baru, pengembangan teknologinya juga perlu melibatkan industri pertahanan dalam negeri. Talenta Indonesia dapat berperan dalam pengembangan teknologi sekaligus membantu memastikan aspek keamanan diperhatikan sejak proses pengembangannya.
Dalam lima hingga 10 tahun ke depan, TNI AU mempersiapkan sejumlah kemampuan, yakni data analytics, kriptografi, keamanan sistem senjata dan jaringan, forensik digital, serta incident response. Perkembangan quantum computing juga perlu diantisipasi karena berpotensi mengubah pendekatan keamanan di masa depan.
Meski demikian, di tengah perubahan teknologi tersebut, Kolonel Irvan menilai kemampuan personel tetap menjadi faktor penting.
"Yang paling utama ialah bagaimana personel TNI AU harus meningkatkan kemampuan berpikir kritis,” tutupnya.
