Memanfaatkan AI sebagai bagian dari pertahanan siber
Di balik peran AI dalam mendeteksi ancaman, memproses data intelijen, dan menyusun rekomendasi dalam pertahanan siber, Indonesia masih perlu memperkuat algoritma, infrastruktur, data, dan talenta untuk membangun kemampuan AI yang sesuai dengan kebutuhan pertahanan nasional.

Kecerdasan artifisial (AI) di dalam sistem pertahanan siber dimanfaatkan dalam proses analisa data dan rekomendasi tindakan, sementara manusia tetap memegang kontrol atas keputusan strategis. Foto: Canva
Kecerdasan artifisial (AI) mulai membuka ruang baru bagi Indonesia untuk memperkuat pertahanan di ruang siber, mulai dari mengenali anomali jaringan dan memprediksi serangan hingga mengolah data intelijen dalam jumlah besar.
Namun, teknologi tersebut juga membawa tantangan baru. AI yang digunakan untuk memperkuat pertahanan siber dapat pula dimanfaatkan untuk menemukan kelemahan sistem dan mengembangkan metode serangan baru.
Staf Khusus Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) sekaligus Direktur Cognitive Artificial Intelligence Research Group (CAIRG), Marsma TNI Arwin Datumaya Wahyudi Sumari, mengatakan bahwa AI dapat digunakan untuk kepentingan yang beragam, tergantung pada bagaimana teknologi tersebut dirancang sejak awal.
“Teknologi ini dapat digunakan untuk kebaikan maupun kejahatan tergantung pada siapa yang menggunakannya,” kata Arwin.
Bagi Indonesia, persoalannya bukan sekadar bagaimana melibatkan AI dalam sistem pertahanan siber, tetapi juga bagaimana memastikan teknologi tersebut dapat digunakan dengan benar dan tepat di bawah pengawasan manusia sekaligus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan nasional.
AI mempercepat proses analisa data
Menurut Arwin, salah satu penggunaan AI dalam pertahanan siber adalah mempercepat proses analisis data yang sangat besar untuk ditangani manusia secara manual.
Di dalam sistem pertahanan, kemampuan memproses data dalam jumlah besar menjadi semakin penting karena AI prospektif digunakan dalam sistem command, control, communications, computers, intelligence, surveillance and reconnaissance (C4ISR).
Data intelijen dapat hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari teks dan suara hingga citra dan video. AI dapat menggabungkan informasi tersebut untuk menemukan pola dan menghasilkan pengetahuan yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.
“Data itu bisa berupa teks, tulisan, suara, citra, lalu video. Apakah manusia mampu mengolah data sebanyak itu dalam waktu yang cepat? Tidak bisa,” ujar Arwin.
Arwin mengatakan tim riset CAIRG telah mengembangkan aplikasi AI yang dirancang untuk memprediksi serangan siber, termasuk memperkirakan waktu terjadinya serangan dan jenis serangan yang mungkin terjadi.
AI dapat memantau aktivitas jaringan setelah menerima arahan dari manusia. Sistem menganalisis aliran data, mengenali anomali, dan kemudian menyusun rekomendasi respons yang dapat dipertimbangkan.
Dengan pendekatan tersebut, AI tidak hanya berfungsi sebagai sistem peringatan yang memberi tahu ketika terdapat aktivitas mencurigakan. AI juga dapat membantu memilah ancaman dan menyusun sejumlah opsi tindakan.
Manusia sebagai safeguard
Namun, kemampuannya memproses informasi tersebut, tidak berarti AI mengambil alih keputusan strategis.
Di sektor pertahanan yang amat strategis, kesalahan sekecil apa pun dapat memicu masalah yang lebih besar.
Arwin menjelaskan bahwa sistem perlu dirancang dengan tingkat keterlibatan manusia (human-in-the-loop). Dalam pendekatan ini, AI berperan dalam memberikan analisis lalu menyusun rekomendasi, sementara manusia tetap menentukan tindakan yang akan diambil.
“Untuk memastikan AI tidak menghasilkan keputusan yang salah, manusia ditempatkan di pintu terakhir sebagai safeguard atas keputusan yang akan diambil,” katanya.
Pendekatan tersebut juga penting karena ancaman siber tidak selalu mengeksploitasi kelemahan teknologi.
Pengguna sendiri dapat menjadi pintu masuk serangan melalui rekayasa sosial, catat Arwin, seraya menambahkan bahwa manusia merupakan mata rantai terlemah dalam keamanan siber.
Pendekatan manusia ini merupakan salah satu poin krusial dalam Rancangan Peraturan Presiden tentang Peta Jalan Kecerdasan Artifisial Nasional dan Rancangan Peraturan Presiden tentang Etika Kecerdasan Artifisial serta dokumen Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial 2020-2045, di mana Arwin turut terlibat sebagai tim perumus, terutama pada bagian pertahanan dan keamanan.
Membangun kemampuan AI sendiri
Tantangan berikutnya adalah memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi AI untuk pertahanan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk memahami dan mengembangkan teknologi tersebut.
CAIRG sendiri telah mengembangkan sejumlah aplikasi AI untuk kebutuhan pertahanan dan keamanan siber. Namun, pengembangan teknologi tersebut menghadapi tantangan yang lebih mendasar, mulai dari algoritma hingga infrastruktur dan data.
Bagi Arwin, kemampuan mengembangkan model dan algoritma AI sendiri merupakan salah satu fondasi yang perlu diperkuat.
Di sisi lain, penguasaan algoritma kemudian perlu ditopang oleh kemampuan komputasi dan pengelolaan data.
Di titik inilah muncul tantangan berikutnya. Data yang digunakan untuk mengembangkan sistem AI tidak selalu dapat diperlakukan seperti data publik karena memiliki tingkat klasifikasi dan sensitivitas yang berbeda-beda.
Karena itu, pengembangan AI pertahanan membutuhkan ekosistem yang mencakup infrastruktur komputasi, tata kelola dan akses data, serta talenta yang mampu mengembangkan dan menguji sistem.
Pada akhirnya, kemampuan AI dalam pertahanan siber tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih model yang digunakan. Indonesia juga perlu memiliki kapasitas untuk memahami bagaimana teknologi tersebut bekerja, mengelola risikonya dan menentukan bagaimana AI digunakan dalam konteks pertahanan nasional.
