SATUSEHAT mengubah cek kesehatan gratis menjadi kebijakan kesehatan presisi

By Yuniar A.

Dengan menjangkau puluhan juta warga dalam waktu singkat, program Cek Kesehatan Gratis telah membangun fondasi data kesehatan nasional melalui SATUSEHAT untuk mendorong intervensi yang lebih preventif dan presisi. 

Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) bertujuan meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan dan mendeteksi penyakit tidak menular sejak dini. Foto: Kemenkes

Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadi salah satu inisiatif kesehatan publik paling ambisius yang pernah dijalankan Indonesia.  


Dalam satu tahun pertama implementasinya, program ini telah menjangkau lebih dari 72 juta warga atau setara seperempat total populasi dengan lebih dari 70 juta menyelesaikan seluruh rangkaian pemeriksaan. 


“Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memandang capaian program CKG pada tahun 2025 sebagai sebuah upaya mobilisasi pemeriksaan kesehatan masyarakat tercepat dalam sejarah Indonesia,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, kepada GovInsider


Program CKG merupakan salah satu program utama Presiden Prabowo Subianto untuk menyediakan layanan skrining kesehatan gratis bagi seluruh masyarakat Indonesia sebagai langkah deteksi dini penyakit dan pencegahan beban kesehatan jangka panjang.  


Pemerintah menargetkan seluruh populasi dapat terjangkau program ini secara bertahap hingga tahun 2029. 


Selain menjangkau puluhan juta warga, tata kelola program ini juga telah berhasil mengubah cara pemerintah mengelola data kesehatan dari sistem yang terfragmentasi menuju ekosistem digital yang terintegrasi. 


“Sebanyak 99 persen dari lebih dari 10.000 puskesmas kini telah mengadopsi pencatatan digital melalui platform SATUSEHAT. Ini memungkinkan penghapusan sekat antar sistem dan menciptakan standar layanan yang lebih konsisten di seluruh Indonesia,” Aji menambahkan. 


Atas keberhasilannya menjalankan program kesehatan dengan skala besar, Kemenkes meraih penghargaan "Special Mention Agility Award" pada acara GovInsider Festival of Innovation Award 2026, yang diselenggarakan pada 3-4 Maret di Singapura.  

SATUSEHAT sebagai tulang punggung 


Aji menjelaskan peran krusial SATUSEHAT sebagai tulang punggung integrasi data kesehatan nasional di dalam program CKG.


SATUSEHAT merupakan platform interoperabilitas data kesehatan yang menghubungkan berbagai sistem informasi di fasilitas layanan kesehatan ke dalam satu ekosistem nasional. Platform ini menjadi fondasi bagi implementasi rekam medis elektronik (RME) pemerintah, memungkinkan data kesehatan individu tercatat secara longitudinal dan dapat diakses lintas fasilitas layanan. 


Perwakilan Kemenkes menerima penghargaan dari GovInsider. Foto: GovInsider

Dari sisi masyarakat, SATUSEHAT menyederhanakan seluruh perjalanan layanan. Mulai dari pendaftaran, penjadwalan, hingga akses hasil pemeriksaan, semuanya dapat dilakukan langsung melalui ponsel, baik melalui WhatsApp maupun aplikasi SATUSEHAT Mobile.  


Bagi tenaga kesehatan, SATUSEHAT IndonesiaKu digunakan sebagai sistem pencatatan terstandarisasi untuk merekam setiap layanan yang diberikan selama proses skrining.  


“Dengan adanya SATUSEHAT IndonesiaKu, data hasil skrining tidak hanya tersimpan di masing-masing sistem informasi fasyankes, melainkan terintegrasi secara digital dan dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat melalui ponsel pintar,” kata Aji.


Tidak hanya mendukung perekaman data, platform SATUSEHAT juga memastikan bahwa skrining tidak berhenti pada tahap deteksi.


Begitu data diinput, informasi tersebut secara otomatis dikirim ke akun SATUSEHAT Mobile milik pasien dalam bentuk “rapor kesehatan” yang dapat diakses kapan saja. Informasi kesehatan juga terhubung dengan sistem informasi manajemen fasilitas kesehatan, baik di puskesmas, rumah sakit, maupun klinik.  


“Apabila sistem mengidentifikasi risiko tertentu, sistem akan memberikan notifikasi hijau, kuning, dan merah. Dengan demikian, proses tindak lanjut dapat dilakukan secara lebih cepat dan terkoordinasi,” kata Aji.


Dengan jutaan data hasil pemeriksaan yang masuk, kemampuan sistem untuk mengelola, mengintegrasikan, dan mendistribusikan informasi secara near real-time menjadi fondasi penting bagi peningkatan kualitas layanan.

Membaca risiko kesehatan secara near real-time 


Menurut Aji, salah satu temuan paling signifikan program skrining kesehatan ini ialah kemampuan pemerintah melakukan deteksi dini penyakit tidak menular yang sering kali terlambat teridentifikasi pada sistem konvensional. 


Implementasi lapangan menunjukkan bahwa penggunaan pendekatan siklus hidup (life-course approach) efektif dalam memetakan risiko kesehatan spesifik berdasarkan kelompok usia.  


“Dengan pencatatan secara digital melalui SATUSEHAT, risiko-risiko kesehatan seperti penyakit jantung, diabetes, dan hipertensi pada kelompok dewasa, serta pemantauan tumbuh kembang dan risiko penyakit tidak menular pada bayi dan anak-anak, dapat diidentifikasi secara near real-time,” ujarnya.


Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memantau jalannya program CKG di sekolah. Foto: Kemenkes 

Hal ini memberikan gambaran profil kesehatan populasi yang lebih akurat bagi pemerintah untuk melakukan intervensi yang lebih presisi. 


Menurut Aji, temuan awal dari program ini cukup mengkhawatirkan, meskipun membuka peluang intervensi yang lebih cepat.  


Pada kelompok dewasa, misalnya, hampir seluruh peserta tercatat kurang aktivitas fisik. Sementara itu, masalah seperti karies gigi, obesitas, dan hipertensi juga muncul dalam proporsi signifikan. 


Di kelompok usia lain, pola risiko yang muncul antara lain kelainan bawaan pada bayi baru lahir, hingga anemia dan kurangnya aktivitas fisik pada remaja. Pada kelompok lansia, tingkat kurang aktivitas fisik dan hipertensi juga tinggi.


“Hal ini memberikan gambaran profil kesehatan populasi yang lebih akurat bagi pemerintah untuk melakukan intervensi kesehatan yang lebih presisi,” kata Aji. 


Lebih penting lagi, akses langsung masyarakat terhadap hasil pemeriksaan mereka melalui aplikasi SATUSEHAT Mobile mulai mengubah perilaku. Warga kini dapat memantau kondisi kesehatan mereka secara mandiri, mendorong kesadaran yang lebih proaktif. 

Fokus di tahun kedua 


Aji mengatakan bahwa fokus pemerintah di tahun ini ialah memastikan bahwa skrining diikuti dengan tindak lanjut yang nyata.


“Pemerintah ingin memastikan bahwa deteksi dini benar-benar berujung pada perawatan dan intervensi yang dibutuhkan.” 


Pemerintah juga menargetkan jangkauan yang lebih luas. Di tahun keduanya, program ini ditargetkan menjangkau 130 juta penduduk, dengan pendekatan yang lebih inklusif.  


Layanan tidak lagi terbatas pada fasilitas kesehatan formal, tetapi diperluas ke sekolah dengan, tempat ibadah, hingga layanan daerah terpencil untuk menjangkau kelompok yang belum terlayani. Semua dilakukan bekerja sama dengan kementerian terkait dan pemerintah daerah. 


Strategi keberlanjutan juga mencakup penetapan target spesifik untuk setiap kelompok usia serta koordinasi erat antara pemerintah pusat dan daerah. 


“Target tahun 2026 ini dapat menjangkau 130 juta penerima manfaat dari berbagai lintas usia,” katanya. 


Bagi Aji, tantangan yang dihadapi pada tahun pertama antara lain kapasitas digital tenaga kesehatan yang bervariasi dan kompleksitas infrastruktur di masing-masing fasilitas kesehatan. Skala implementasi yang masif dalam waktu singkat juga menuntut adaptasi cepat dari semua pihak.


Untuk mengatasinya, Kemenkes melakukan pendampingan terus-menerus, penyempurnaan sistem, dan penyediaan dukungan teknis yang responsif bagi petugas di lapangan.