Video: Head of Design INA Digital Edu berbagi pengalaman bekerja di pemerintahan
Keberhasilan transformasi digital pemerintah tidak hanya semata faktor teknologi, melainkan oleh desain layanan yang lebih baik, kata Lody Andrian dari INA Digital Edu.

Dalam acara Festival of Innovation 2026, Head of Design and Research INA Digital Edu, Lody Andrian, mengatakan pentingnya pemerintah beralih dari membangun sistem menjadi menyampaikan layanan yang benar-benar bermanfaat untuk warga. Foto: GovInsider
Desain sering kali dipahami sebatas urusan tampilan visual atau estetika.
Padahal, dalam layanan publik digital, desain berperan jauh lebih besar: menentukan bagaimana warga mengakses layanan, memahami informasi, dan menyelesaikan kebutuhan mereka dengan mudah.
Bagi Head of Design and Research INA Digital Edu, Lody Andrian, desain merupakan fondasi dari setiap layanan digital pemerintah.
"Kita tidak hanya bicara tentang desain grafis atau desain visual semata, tetapi juga desain produk dan desain layanan yang membentuk pengalaman warga saat menggunakan layanan publik."
Berbicara dalam podcast Civic Punks di sela-sela acara Festival of Innovation yang diselenggarakan GovInsider, Lody menjelaskan bagaimana pendekatan desain dapat membantu pemerintah membangun layanan digital yang lebih efektif, mudah digunakan, dan benar-benar menjawab kebutuhan warga.
Membantu transformasi sektor publik
Lody menceritakan bagaimana ketertarikannya pada sektor publik berawal dari tantangan yang tidak ia temui saat bekerja di sektor swasta.
Sebelum di INA Digital Edu, Lody pernah bekerja di World Bank, lembaga PBB dan konsultan digital di sektor swasta.
INA Digital Edu adalah bagian dari Peruri yang bekerja dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Indonesia untuk mengembangkan ekosistem digital pendidikan.
Di sana, Lody memimpin tim yang terdiri dari 22 desainer, peneliti, penulis, dan desainer visual bekerja membangun berbagai inisiatif digital bagi guru, siswa, pemerintah daerah, dan orang tua, serta menyiapkan fondasi jangka panjang seperti design system, design principles, dan panduan UX writing.
Menurut Lody, bekerja di lingkungan pemerintahan memiliki tantangan tersendiri dibanding bekerja di sektor swasta.
“Sebagian aplikasi atau layanan digital pemerintah masih sangat terpisah-pisah. Banyak yang memiliki fungsi yang tumpang tindih dan tidak saling terhubung. Itulah masalah pertama yang kami identifikasi.”
Persoalan itu diperparah oleh keberadaan berbagai legacy system yang masih digunakan. Banyak fungsi dan layanan sebenarnya sudah tersedia, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal.
Karena itu, salah satu pekerjaan utamanya adalah memetakan seluruh sistem yang ada, mengidentifikasi kesenjangan, dan memahami kebutuhan pengguna yang belum terpenuhi.
Bagi Lody, perubahan ini justru membuatnya merasa tertantang.
“Ini adalah kesempatan baik bagi kami, para desainer, peneliti dan praktisi kreatif untuk benar-benar push the limit di sektor publik,” katanya.
Dari membangun sistem ke melayani warga
Menurut Lody, tantangan terbesar transformasi digital pemerintah bukan hanya soal teknologi, melainkan perubahan cara berpikir.
Selama ini, banyak instansi pemerintah masih berfokus pada pembangunan sistem, bukan pada penyampaian layanan kepada masyarakat.
"Kami berupaya beralih dari membangun sistem menjadi menghadirkan layanan," katanya.
Di sinilah peran desain menjadi penting.
Alih-alih hanya berfokus pada fitur teknologi, tim INA Digital Edu mendorong praktik co-creation dan riset mendalam dalam merancang desain layanan. Mereka percaya desain yang baik harus lahir dari pemahaman terhadap perilaku dan kebutuhan masyarakat.
Sebaliknya, desain yang buruk akan menciptakan biaya yang besar bagi sektor publik, mulai dari kebutuhan pelatihan tambahan, sosialisasi yang lebih intensif, hingga meningkatnya keluhan dari masyarakat.
Karena itu, ia memilih pendekatan yang sederhana untuk mendorong perubahan.
“Hal pertama yang harus dilakukan sederhana: membangun prinsip desain yang praktis, sehingga mudah diimplementasikan dan bisa diulang.”
Menurutnya, para pengambil keputusan belum tentu membaca laporan riset yang panjang atau memahami service blueprint yang kompleks. Namun, prinsip yang sederhana dan terus diterapkan dapat perlahan mengubah cara organisasi merancang layanan.
Salah satu contohnya adalah bagaimana pemerintah perlu menyeimbangkan kecepatan dan rasa aman dalam layanan digital.
“Ketika menggunakan aplikasi pemerintah, terkadang yang kita butuhkan bukanlah proses yang sangat cepat, melainkan keyakinan bahwa setiap langkah yang kita lakukan sudah benar. Ini karena layanan tersebut berkaitan dengan identitas, uang, dan berbagai hal penting lainnya,” catatnya.
Melihat ke depan, Lody merasa semakin banyak pemerintah daerah mulai menyadari nilai dari desain dan product thinking dalam layanan publik.
Ia optimistis praktik tersebut tidak hanya menjadi proyek yang dijalankan oleh tim khusus, tetapi terintegrasi dalam cara kerja birokrasi itu sendiri.
“Saya sangat berharap pendekatan ini semakin terintegrasi ke dalam proses kerja mereka sendiri. Bukan berarti mereka harus mengikuti proses yang kami gunakan, tetapi mereka bisa menerapkannya dengan cara yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing,” tambahnya.
Tonton video selengkapnya di bawah ini: