Download: Digital Trust & Cybersecurity Champions 2026

Laporan kedua GovInsider tentang para pemimpin keamanan siber, yang kini berganti nama menjadi Digital Trust & Cybersecurity Champions kini tersedia dalam format e-book (dalam Bahasa Inggris) yang dapat diunduh.

Buku digital ini mengangkat kisah 16 pemimpin sektor publik dari berbagai negara yang melindungi infrastruktur informasi vital dan menjaga keamanan data.

Dalam lanskap siber saat ini, para penyerang memanfaatkan kecerdasan artifisial (AI) untuk mempersingkat proses peretasan yang biasanya membutuhkan waktu berminggu-minggu menjadi hanya hitungan jam. Sementara itu, pemerintah di seluruh dunia berlomba untuk mengimbanginya.


Dalam penulisan laporan, batas antara keamanan siber dan perlindungan data semakin terlihat kabur.  


Kebocoran data merupakan kegagalan perlindungan data, sementara undang-undang perlindungan data tanpa didukung kemampuan teknis akan sulit ditegakkan.  


Membahas salah satunya tanpa mencakup yang lain hanya akan memberikan gambaran yang tidak utuh kepada pembaca. Karena itu, laporan tahun ini juga menghadirkan regulator bersama para praktisi yang bertugas melindungi sistem digital.  


Kami juga mengubah format penyajiannya. Tahun lalu, format tanya jawab (Q&A) menyajikan transkrip wawancara dan membiarkan pembaca menemukan sendiri wawasan di dalamnya.  


Tahun ini, setiap kisah disajikan dalam bentuk artikel mendalam yang berangkat dari permasalahan atau keputusan nyata, menggunakan wawancara untuk menjelaskan bagaimana dan mengapa hal tersebut terjadi, serta memberikan konteks yang cukup agar pembaca di negara lain dapat memahami relevansinya bagi mereka.  


Kami juga lebih selektif dalam memilih narasumber, dengan membangun setiap artikel berdasarkan pengalaman seorang pemimpin senior yang menentukan arah kebijakan dan dapat berbicara secara terbuka mengenai berbagai kompromi dan tantangan dalam pengambilan keputusan. 

Benang merah dari laporan ini 


  1. AI berada di kedua sisi pertarungan. Digital and Intelligence Service (DIS) Singapura menjelaskan konsep "Advanced Persistent Defence" sebagai respons mereka terhadap serangan yang diperkuat AI. Sementara itu, Unit 42 dari Palo Alto Networks membagikan pelajaran yang mereka peroleh dari menguji AI mutakhir pada kode mereka sendiri. 
  2. Ketahanan tidak selalu bergantung pada anggaran yang besar. Fiji berfokus pada layanan-layanan esensial, sementara otoritas perlindungan data Ekuador membangun sistem dan perangkat TI sendiri hanya dengan 13 staf di unit operasional intinya. 
  3. Persiapan jangka panjang sangat penting. Hal ini terlihat dari persiapan Indonesia menghadapi kriptografi pascakuantum hingga upaya Italia mempertahankan keberlanjutan program yang didanai Uni Eropa setelah pendanaannya berakhir. 

Laporan ini dapat terwujud berkat dukungan Palo Alto Networks. Namun, seluruh artikel dalam laporan ini ditulis secara independen oleh para reporter GovInsider.


Kami mengucapkan terima kasih kepada para pejabat yang telah meluangkan waktu dan berbagi pandangan secara terbuka. Kami berharap pengalaman mereka dapat memberikan manfaat bagi pekerjaan Anda. 


Baca artikel Digital Trust & Cybersecurity Champions 2026 berbahasa Indonesia di sini: 

  1. Perkuat pertahanan siber, BSSN pimpin migrasi kriptografi pascakuantum 
  2. Memperkuat keamanan sebagai fondasi ekosistem digital kesehatan 
  3. TNI AU perkuat kesiapan personel menghadapi ancaman perang siber 

Download e-book (dalam Bahasa Inggris) di sini: